Saturday, December 12, 2009

Cium Sayang ataukah Cium Terlarang

Hampir seluruh media akhir-akhir ini menyiarkan hal-hal yang aktual dan berupaya untuk menyedot pemirsa agar tetap mengikuti berita yang disampaikannya mulai dari rangkaian bencana, kriminal, pendidikan, seleb caboh, sampai berita politik. 

Berita politik  memang tak pernah usang selagi masih ada sebuah negara. Tentunya akan  'bersentuhan' dengan pertanyaan-pertanyaan siapa yang akan menjadi pemimpin bangsa setelah ini, siapa yang akan menjadi wakil rakyat, siapa yang akan menjadi gubernor, bupati, lurah  dst. Episode pertanyaan selanjutnya tentu tak kalah gaungnya : siapa sih dalang Century Gate, Partai apa saja sih yang dapat kucuran uang sejumlah 6.7 Trilyun itu, terus ujung-ujungnya gimana sih kasusnya, apakah sama dengan kasus-kasus sebelumnya? Masih ingat kasus Edy tanzil dan beribu-ribu kasus lainnya yang  sampai saat ini BAP-nya ditangani para Malaikat penjaga pintu neraka di alam sana. Begitulah episod demi episod pertanyaan berikutnya terus bermunculan.


Lalu darimana kita tahu berita itu semua,  tentu peran media. Disinilah peran media sangat penting dan berguna bagi pendidikan politik masyarakat agar keberlangsungan kasus demi kasus dapat dikontrol secara publik, dan masih banyak peran yang lain.

Dalam hal sebuah penyampaian berita memang tidak akan ada akhirnya dan terus bersambung dengan pernak-pernik gaya jurnalistiknya. Sekarang media tidak lagi mengumbar dramatisasi peristiwa, apa adanya. Artinya media sudah kembali ke kodrat sebagai pencatat fakta untuk kemudian menyampaikannya sebagai berita.

Salah satu peranan media adalah mempengaruhi sikap dan perilaku orang/public. McDevitt (1996: 270) mengatakan, “Media cukup efektif dalam membangun kesadaran warga mengenai suatu masalah (isu).” Lindsey (1994: 163) berpendapat, “Media memiliki peran sentral dalam menyaring informasi dan membentuk opini masyarakat” Sedangkan para pemikir sosial seperti Louis Wirth dan Talcott Parsons menekankan pentingnya media massa sebagai alat kontrol sosial.  Sekarang ini bisa kita saksikan peran  media begitu penting bagi masyarakat akan informasi yang sedang, telah dan akan terjadi setiap hari, permenit bahkan perdetik. Tak terasa memang jarum jam berjalan begitu cepatnya.


Bagian lain dari Kebebasan media

Namanya juga media, selain perihal yang berat lagi serius tetapi juga ada selingan berita ringan namun tidak  kurang keseriusan makna muatan sejarahnya.  Tak lain adalah salah satu macam berita yang mengungkap  lagak lagu manusia, yakni cium-ciuman.  Suatu aksi sekaligus ekspresi diri yang manusiawi sekali dan yang telah menjadi tradisi jutaan tahun, namun di kawasan tertentu diberlakukan secara diam-diam atau malah telarang jika dilakukan di muka umum. 


Lihat saja salah satu peran media tentang lagak-lagu seleb Indonesia, dewi persik misalnya saat berciuman mesra dengan aldi taher yang beredar di internet tak lepas dari peran media. Ini mengisyaratkan bahwa media dan sasaran 'tembak' wartawan akan menjadi berita hangat dan menyedot pemirsanya. Apalagi sebagai objeknya adalah seorang  wanita  yang suka mengumbar nafsu, yang suka hot-hot-hot..... DOG.
  
Peran media memang ampuh, coba saja kita  lihat berita heboh melalui judul headline dari sebuah koran di Sarajevo yang berjudul :“La Bosnie revendique le record Guinness du plus grand baiser simultané”, demikian salah satu judul berita yang dilansir Agen Pers Perancis (AFP) dari laporan jurnalisnya di Sarajevo, beberapa tahun lalu. « Bosnia mengklaim rekor Guinness perihal ciuman-bareng paling tinggi”. Dengan argumentasi yang mengokohkannya, yakni berupa aksi-demonstrasi dari hampir sebanyak 7.000 pasangan berciuman bareng selama  sepuluh detik, di lapangan sentral  Tuzla. puih...
 
Nih... liat contoh lagi dari peran media tentang suatu evenement local, l yang sarat muatan simbol keinternasionalannya, yang tentu saja menimbulkan kebanggaan dari pihak organisatornya. “Tuzla adalah kota cinta,” jelas Kristina Gliorovic, salah seorang  anggota organisatornya. Dan: “Manusia menginginkan cintakasih.” Sedangkan di pihak penentangnya, yakni dari kalangan ulama, menganjurkan pemboikotan aksi-demonstrasi tersebut, dengan argumentasi bahwasanya itu tidak selaras dengan tradisi Islami. Bahkan seorang ulama, Amir Karik, menyatakan bahwa para peserta evenement tersebut sebagai “penggelar ke-amoralan seksualita.”
 
Begitulah, rupanya perihal yang berupa perwujudan rasa  kasih sayang, malah juga bisa dimaknai sebagai perhatian atau rasa hormat, di tempat-tempat tertentu dan pada masa tertentu bisa merupakan tradisi yang disepakati masyarakat manusia. ( Mudah2n tidak). Kemudian sampai kapan  masyarakat kita memandang 'pemandangan' syuur dianggap suatu hal  yang controversial ditengah bebasnya peran media terhadap 'objek'nya. Atau akan menjadi hal biasa-biasa saja seperti budaya orang bule. Dan kita tahu gejala itu sudah diperlihatkan.
 
Tetapi, memang perihal kebiasaan berciuman itu tak bisa sama atau disamaratakan di masing-masing negara. Dengan ciri-ciri budaya tentunya. Karena, justeru itu bisa saja terjadi bahwa berciuman di suatu negera tertentu sebagai hal yang biasa-biasa saja, sedangkan di negara yang ketimurannya masih kental, merupakan hal yang luar biasa bahkan terlarang -- jika dilakukan di muka umum.
 
Tentu ada ragam dan macamnya dalam memaknai ciuman kasih sayang maupun ciuman yang terlarang. Dengan tolak ukur apakah selaras ataukah tidak menurut etika, aturan atau ajaran kajian yang diikutinya. Meski bukan jarang terjadi, cium-bercium pun bisa dilakukan secara diam-diam, bahkan dalam rangka perselingkuhan. Baik kejadiannya di tempat atau di perumahan biasa ataukah di perhotelan maupun di gedung-gedung indah, bahkan di gedung megah institusi tinggi pun bisa pula terjadi. Dan jangan lupa bahwa itu terjadi tidak lepas dari peranan media  sebagai salah cara  untuk meningkatkan ratingnya -tentunya berita-berita yang kontroversi- di masyarakat. ***



10 comments:

Cuma ngramein tulisan masa sih GAWAT !! Kalo Nganterin temen apel, trus 'begituan' didpn kita. itu GAWAT!!.

Tifaul sembiring (menkoinfo) klo liat gambar kyak ini bisa dibredel blog inifr.

Kalo gitu...menkominfonya diganti aja dari PDIP atau PAN.

ya...itulah budaya barat yang telah di adopsi oleh budaya kita...khususnya di kalangan sebagian para remaja kita, agamalah filternya....salam.

media memang memiliki peran besar dan harus diperhitungkan keberadaannya.

kalau cimumannya d tengah jalan gt bener2 g punya rasa malu tuh orang

oy skalian mo bagikan award buat sahabat jika berkenan silakan d ambil disini

Thank's for All. btw,, ane termasuk bagian dari peran media ngga ya? he..he..
@Rizky2009 : siap meluncur...

waaaahhhh.... kalo ciuman nya hot kayak dewi persik gitu di tengah jalan sih.... buseng deeeehhhh....

Sebenernya tergantung juga sih....klo cuma sebagai tanda kita mengasihi/ sayang sm orang lain kayanya wajar...nah klo udah kaya dewi Persik mah itu penuh nafsu namanya..........

Post a Comment

Terima kasih Sobat Telah Berkenan Meluangkan Waktu Mengomentari dan Saya akan segera komen balik Anda. No. Porn No. Spam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...