Membangun Masyarakat Madani Berbasis Kearifan Lokal

Kegundahan Emhusni Mubarok terhadap orang-orang yang dianggap "religius" itu orang-orang yang baik ternyata jauh panggang dari api. Ia mengatakan "...saya pernah merasakan hidup ditengah-tengah masyarakat yang mengaku “religious” tapi ternyata, setelah ditilik lebih dalam lagi sepertinya tidak.

Lindungi Anak dari Dunia Maya

Dunia maya yang tanpa batas menyimpan bahaya, utamanya buat anak-anak dan remaja. Untuk melindungi anak dari bahaya dunia maya, perlu keterbukaan komunikasi antara orang tua dan anak. Terdengar klise memang. Namun, sebenarnya itulah kuncinya.

Daftar Peserta Sertifikasi 2012

Informasi calon peserta setifikasi guru 2012 Kabupaten Bekasi yang berisi daftar guru lolos dan telah memenuhi persyaratan sebagai bakal calon peserta sertifikasi guru tahun 2012 sesuai database NUPTK per tanggal 30 september 2011 berjumlah 2.747 guru.

Peran IT dan Internet Bagi Pengembangan Pendidikan Anak

Internet memang bagaikan dua sisi mata uang dan pisau bermata dua. Ada sisi positif dan negatif. Kasus-kasus yang terjadi seperti, penghinaan, perselingkuhan, pencemaran nama baik, penipuan, pelecehan seksual, pornografi hingga penculikan dan bunuh diri,

Horeee..Aku LULUS

Untuk memilih perguruan tinggi yang ideal dan tepat atau yang sesuai dengan keinginan tidaklah sulit, walaupun begitu ternyata masih banyak diantara siswa/siswi SMA/SMK yang baru lulus mengalami kesulitan dalam menentukan perguruan tinggi pilihannya.

Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts

Sunday, June 16, 2013

Ini Loh, Alasan Tik Dihapus

Kenapa TIK dihapus? Inilah alasannya
Oleh Mujibbur Rohman di Ikatan Guru Indonesia (IGI) (Berkas) · Sunting Dokumen

Alasan mengenai ada atau tidaknya pelajaran TIK sebenarnya sedikit kompleks. Pertimbangan ada atau tidak ada TIK ini bukan karena penting atau tidak penting pelajaran TIK, ini sepertinya berkaitan dengan proses politik dan kebijakan luar negeri yang terjadi di negara ini.

Saya mulai dengan sedikit flashback mengenai proyek IGOS (Indonesia Go Open Source), dulu proyek ini digadang gadang akan menjadikan Indonesia sebagai negara mandiri yang mampu menciptakan pemerintahan yang berbasis IT (e-goverment), tidak hanya pemerintahan tapi juga sektor pendidikan, perdagangan, dan sektor-sektor lainnya (IGOS direncanakan sejak Menkoninfo Syamsul Muarif). Kata kuncinya adalah "mandiri", jadi yang digunakan adalah sebuah sistem yang bisa melepaskan ketergantungan dari produsen dalam hal ini produsen sistem operasi dan aplikasi, sehingga digunakan sistem operasi open source. Muncullah proyek IGOS (Lebih lengkap tentang IGOS http://www.ebizzasia.com/0219-2004/itc,0219,01.htm). Proyek IGOS sejatinya sudah berjalan dimana sudah tercipta beberapa seri distro IGOS yang beredar seperti IGOS Nusantara, IGOS Laba-Laba, IGOS Billing, dsb. Akan tetapi lahirnya IGOS tentu menimbulkan kekhawatiran pihak produsen yang selama ini diuntungkan terutama produsen Sistem Operasi. Sehingga diundanglah SBY ke US sekalian ketemu Bill Gates (2005- Menkominfo saat itu Sofyan Djalil) dilanjutkan Bill Gates yang datang di Indonesia (2008-Menkominfo saat itu Bapak M. Nuh, sekarang Menteri Pendidikan). Pertemuan itu tentu bukan tanpa maksud, silahkan baca di http://www.unisosdem.org/article_detail.php?aid=7547&coid=4&caid=33&gid=4, bahkan para pekerja IT yang mendukung proyek IGOS sangat khawatir akan mesranya Bill Gates dan SBY akan berdampak pada keberlangsungan proyek IGOS. Dan kekhawatiran tersebut saat ini mulai nyata dimana IGOS terbengkalai. 

Lalu apa kaitannya IGOS dengan dihapuskannya TIK. TIK muncul dalam kurikulum 2004 salah satunya adalah karena semangat IGOS, hal ini bisa dilihat dari buku pegangan mata pelajaran TIK versi BSE sangat opensource oriented. Nah mengenai IGOS pemerintah sudah berhasil menghambat perkembangannya dan membuat IGOS terbengkalai tinggal mata pelajaran TIK yang masih ada. Keberadaan TIK di sekolah menengah tentu lambat laun akan menimbulkan kesadaran akan sumber daya IT yang mandiri, baik sumberdaya IT Brainware ataupun software. Ini terbukti makin banyak sekolah menengah yang mengajarkan SO Linux mulai dari sekedar cara pemakaian sampai kemampuan teknis intalasi dan developmennya. Bahkan disekolahan saya menggunakan 2 SO, Windows dan Linux untuk proses belajar. Tentu hal ini menimbulkan kekhawatiran pihak US (mewakili Microsoft) akan bangkitnya kembali IGOS.

Nah pemerintah yang berkuasa saat ini, jika ingin mendapatkan kekuasaan di pemilu 2014 tentu harus mendapat dukungan pemerintah USA sono (seperti yang sudah umum diketahui, tanpa dukungan US akan susah untuk berkuasa, kecuali negara-negara anti USA). Nah dukungan itu bisa didapat jika pemerintah memperlihatkan komitmennya terhadap MOU yang pernah ditandatangani dan menuruti kemauan USA. Salah satu bentuk pelaksanaan komitmennya yaitu menghapus TIK ditingkat sekolah menengah, kenapa? Yup agar semangat IGOS tidak muncul kembali dan kemandirian IT tidak terwujud sehingga Indonesia tetap bergantung pada USA dibidang IT.

Ngomong-ngomong, katanya cashback tiap proyek lumayan gedhe loh bisa mencapai 30% nilai proyek. Lumayan kan buat "pesta 2014" . Makanya proyek "Kurikulum coba-coba 2013" ini harus tetap berjalan di 2013

Tulisan ini disusun berdasar rangkaian literatur berita Online dan ilmu “cocokmologi”, sehingga bagi yang berseberangan tentu akan menganggap ini suudzon, halusinasi, ataupun ekspresi galau dari seorang guru TIK. Terima kasih.



Ditulis oleh : Mujibbur Rohman
sumber : http://www.facebook.com/wijaya.kusumah/posts/10201340180574609

Thursday, January 17, 2013

Kurikulum 2013 Sistem Pendidikan Gagal ?

Sebagai guru TIK saya sempat kaget juga sekaligus bingung mendengar rencana Pemerintah khususnya Depdikbud, eh salah yah...maksudnya Kemendiknas, loh..koq salah lagi sih, maksudnya Kemdikbud untuk menghapus Kurikulum KTSP dan memberlakukan Kurikulum baru yaitu Kurikulum 2013, dimana mata pelajaran TIK akan dihapus dan akan diintegrasikan ke semua mata pelajaran lain, bukan hanya TIK tapi juga ada  bidang studi yang lain yang akan dirubah/dihapus.  Wacana ini sudah dihembuskan dan diuji publik sejak pertengahan tahun 2012 yang lalu.

Pemberlakuan kurikulum 2013 tidak saja berefek kurang baik terhadap guru khususnya guru TIK yang sudah bersertifikasi, tetapi juga tentu akan banyak berpengaruh kepada sistem pendidikan kita kepada anak didik secara Nasional. Lain halnya jika kebijakan baru Kurikulum 2013 ini memberikan efek positif dan melengkapi kekurangan kurikulum lama (KTSP), tentu tidaklah  terlalu bermasalah khususnya bagi guru sebagai pendidik yang merasakan langsung dengan peserta didik, apalagi hingga saat ini kurikulumnya itu seperti apa, bagaimana dan dokumennya seperti apa belum jelas, yang ada baru naskah uji publik doang.

Memasuki tahun 2013 ini, beberapa guru dan khususnya  guru TIK yang menjadi 'korban' kebijakan baru ini masih bingung dan waswas tentang bagaimana nasibnya jika memang kurikulum 2013 benar-benar diberlakukan?. Berikut ungkapan kawan saya sesama guru atau sebagai ungkapan kecewa dan sekaligus mempertanyakan kebijakan Pemerintah khususnya Bapak Menteri Kemdikbud RI tentang arah Kurikulum baru tersebut. Ungkapan ini sekaligus juga mewakili guru-guru yang lain dan umumnya para pendidik.

"Pak Menteri, Apakah Kondisi ini yang Bapak Kehendaki?"

Kurikulum 2013 sudah berada di ambang pintu. Saat ini, uji publik sudah dilaksanakan. Hasil uji publik pun sudah diketahui khalayak. Menurutku, masyarakat luar menolak rencana Kurikulum 2013 karena dinilai sarat dengan pembredelan beragam kebijakan terdahulu yang sudah dinilai baik. Namun, justru Kurikulum 2013 meniadakan itu. Bahkan, agaknya DPR pun berpihak kepada resistensi publik terhadap rencana pemberlakuan Kurikulum 2013. Saya dengar bahwa anggota DPR akan menolak Kurikulum 2013.

Namun, seperti telah kita ketahui bahwa pemerintah sering memaksakan diri terhadap rencana yang telah dianggap baik. Pemerintah sering menutup mata atas beragam kritikan masyarakat luas. Mungkin pemerintah sudah menganggap bahwa kebijakannya itu bijak. Maka, tak ayal beragam kebijakan terdahulu kontraproduktif dengan rencana semula. Dan khusus kebijakan bidang pendidikan, program apakah yang telah berjalan dan dinilai baik? Nyaris semua kebijakan itu meninggalkan kesan buruk. Mari kita telaah.

Sekolah Gratis
Mana ada sekolah gratis di negeri ini? Pemerintah selalu menggembar-gemborkan pendidikan gratis seraya menggelontorkan triliunan rupiah melalui Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Di mana-mana, pemerintah mengampanyekan pendidikan gratis dan permintaan dukungan. Namun, seperti telah kita ketahui bahwa kebijakan pendidikan gratis justru telah menurunkan kualitas pendidikan itu sendiri. Tak ayal, masyarakat pun mencibir kebijakan BOS. Bahkan, uang BOS itu untuk Bos alias pejabatnya.

Sebenarnya masyarakat tidak menghendaki pendidikan gratis. Masyarakat menghendaki pendidikan yang terjangkau. Masyarakat menyadari bahwa pendidikan itu mahal sehingga masyarakat memang memiliki kewajiban untuk mendapatkan pendidikan itu. Sejak republik ini berdiri dan melahirkan para mahaguru, pendidikan memang dibeli. Tidak ada pendidikan gratis. Maka, masyarakat pun giat bekerja agar anak-anaknya dapat bersekolah. Hasilnya sungguh luar biasa: ekonomi rumah tangga berjalan dan pendidikan pun teraih.

Buku Sekolah Elektronik


Pemerintah telah memberlakukan kebijakan Buku Sekolah Elektronik atau BSE. BSE diharapkan agar dapat digunakan semua pihak secara gratis. Dengan fasilitas internet, BSE dapat diunduh secara gratis. Sayang seribu sayang, kebijakan itu tidak berjalan maksimal. Banyak daerah mengalami kesulitan untuk menggunakan BSE. Akhirnya, pemerintah pun membolehkan BSE dicetak dan dijual dengan HET yang ditentukan. Begitulah kebijakan yang tak terencana dengan baik.

Korupsi Nilai


Pemerintah telah memberlakukan kebijakan Ujian Nasional (UN) sejak lama. Namun, UN sekarang memiliki kekhasan yang teramat berbeda, yaitu pada status kelulusan. Dahulu, anak sekolah yang telah mengikuti UN akan mendapatkan Surat Tanda Tamat Belajar (STTB). STTB adalah bukti hukum yang menyatakan bahwa pemiliknya telah menyelesaikan pendidikan sesuai dengan jenjangnya.

Namun, kebijakan ini diubah. STTB diganti ijazah. Semua siswa harus lulus UN jika ingin mendapatkan ijazah. Agar lulus UN, semua siswa harus mendapatkan nilai sesuai dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Dan di sini pula korupsi nilai berawal. Banyak sekolah (mungkin semua sekolah) melakukan korupsi nilai massal. Sekolah-sekolah ramai-ramai mendongkrak nilai murid-muridnya. Tidak ada lagi murid mendapatkan nilai di bawah 7. Semua anak PASTI mendapatkan nilai di atas 7, bahkan nyaris sempurna alias 10. Mengetahui nilainya pasti dinaikkan, para murid pun enggan belajar karena mereka sudah yakin bahwa gurunya pasti akan membantu kelulusannya.

Pak Mendikbud yang saya hormati, kondisi inikah yang Bapak kehendaki? Sekolah tak lagi menjadi sarana pendidikan akhlak, karakter, dan nilai-nilai keluhuran budi. Sekolah-sekolah justru menjadi sarang terbentuknya sikap tercela. Sekolah-sekolah justru menjadi ladang korupsi dalam segala hal. Sungguh saya teramat membenci kondisi itu. Lalu, mengapa Bapak tetap berusaha mengegolkan rencana Kurikulum2013. Cobalah Bapak pikirkan hal-hal berikut.

Bagaimana Nasib Guru TIK?
Pelajaran TIK dihapus sehingga mereka – rekan-rekan guru TIK – kebingungan dengan nasibnya. Mereka berijazah TIK dan mendapatkan sertifikat pendidik juga dengan ijazah TIK. Mereka pun mendapatkan tunjangan profesi dengan gelar sarjana pendidikan TIK. Lalu, mengapa Bapak menghapus pelajaran TIK itu? Lalu, apa yang harus dilakukan guru TIK? Kebijakan ini berasal dari Bapak dan mestinya Bapak langsung memberikan solusi begitu kebijakan itu akan diprogramkan. Janganlah membuat kebijakan setelah korban berjatuhan!

Bagaimana Model Pelajaran SD?
Dalam Kurikulum SD 2013 jelas tertera bahwa pelajaran mereka bersifat tematik. Lalu, mengapa kurikulumnya masih menggunakan mata pelajaran? Mestinya Kurikulum SD tidak menyebutkan pelajaran tetapi rumpun pelajaran berdasarkan tematik. Jelas kondisi ini akan membingungkan jutaan guru SD karena mereka adalah guru kelas. Janganlah Bapak terburu-buru membuat kebijakan dan ngotot memberlakukan kebijakan ini.

SMA tanpa Jurusan
Pak, baru kali ini saya merasa asing dengan kabar ini. Bagaimana mungkin anak-anak SMA akan dibebaskan dari penjurusan sedangkan mereka akan meneruskan pendidikannya dan atau masa depannya? Anak-anak SMA pastilah memiliki cita-cita dan penjurusan itu bertujuan untuk memberikan gambaran awal atas masa depannya. Jika anak-anak SMA tak memiliki jurusan, bagaimana mungkin mereka akan memiliki motivasi tinggi guna mencapai masa depan. Kondisi itu jelas akan memerparah situasi guru-guru SMA. Teman-teman guru SMA pastilah mengalami kesulitan karena ketiadaan penekanan pelajaran sehingga pelajaran SMA sama seperti pelajaran SMP.

Tolonglah Pak Mendikbud, janganlah Bapak tergesa-gesa menandatangani Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Kepmendikbud) Republik Indonesia tentang Pemberlakuan Kurikulum 2013. Dengarkanlah suara guru, murid, masyarakat, DPR, dan nurani Bapak. Tanda tangan Bapak tidak hanya berdampak hari ini tetapi akan memberikan pengaruh yang teramat besar bagi pendidikan bangsa ini sejak keputusan itu berlaku. Mudah-mudahan Bapak membaca tulisan ini. Terima kasih….!!!

Teriring salam,
Sumber : Johan Wahyudi


Saturday, May 5, 2012

Memburu Roh Guru Berprestasi (Bagian 2 Habis)

Guru berprestasi masa kini ditentukan oleh sebatas apa guru tersebut mengerti, memahami, dan menerapkan pembelajaran yang sesungguhnya. Mereka tidak lagi berada dalam pusaran pengajaran yang mengutamakan dominasi tunggal melainkan berada dalam posisi fasilitator yang dilaogis. Secara nyata, telah terjadi perubahan paradigma dari pengajaran ke pembelajaran. Oleh karena itu, guru secara teknis dalam mengejawantahkan roh kebenaran sebaiknya melalui rel pembelajaran.

Pembelajaran menjadi orientasi proses menumbuhkembangkan pribadi siswa karena selama ini (1) pendidikan dipandang tidak mampu memanusiawikan siswa secara tepat dan sesuai dengan jati dirinya; (2) pendidikan diselenggarakan untuk kepentingan penyelenggara bukan untuk peserta didik; (3) pendidikan yang diselenggarakan bersifat pemindahan isi (content transmission). Tugas pengajar hanya sebagai penyampai pokok bahasan. Mutu pengajaran menjadi tidak jelas karena yang diukur hanya daya serap sesaat yang diungkap lewat proses penilaian hasil belajar yang artifisial. Pembelajaran tidak diarahkan kepada partisipatori total dari peserta didik yang pada akhirnya dapat melekat sepenuhnya dalam diri peserta didik; (4) aspek afektif cenderung terabaikan; (5) diskriminasi penguasaan wawasan terjadi akibat anggapan bahwa yang di pusat mengetahui segalanya dibandingkan dengan yang di daerah, yang di daerah merasa mengetahui semuanya dibandingkan dengan yang di cabang, yang di cabang merasa lebih tahu di bandingkan dengan yang di ranting, begitu seterusnya. Jadi, diskriminasi sistematis terjadi akibat pola pembelajaran yang subjek—objek; dan (6) pengajar selalu mereduksi teks yang ada dengan harapan tidak salah melangkah. Teks atau buku acuan dianggap segalanya jika telah menyampaikan isi buku acuan berhasillah dia.

Pembelajaran masa kini dirancang dengan berbagai model pembelajaran berdasarkan multikarakter siswa dan multikonteks belajar dengan berorientasi pada konsep bahwa (1) setiap peserta didik adalah unik. Peserta didik mempunyai kelebihan dan kelemahan masing-masing. Oleh karena itu, proses penyeragaman dan penyamarataan akan membunuh keunikan tersebut. Keunikan harus diberi tempat dan dicarikan peluang agar dapat lebih berkembang; (2) anak bukan orang dewasa dalam bentuk kecil. Jalan pikir anak tidak selalu sama dengan jalan pikir orang dewasa. Orang dewasa harus dapat menyelami cara merasa dan berpikir anak-anak. Yang terjadi justru sebaliknya, pendidik memberikan materi pelajaran lewat ceramah seperti yang mereka peroleh dari bangku sekolah yang pernah diikuti; (3) dunia anak adalah dunia bermain tetapi materi pelajaran banyak yang tidak disajikan lewat permainan. Hal itu salah satunya disebabkan oleh pemb erian materi pelajaran yang jarang diaplikasikan melalui permainan yang mengandung nuansa filsafat pendidikan; (4) usia anak merupakan usia yang paling kreatif dalam hidup manusia. Namun, dunia pendidikan tidak memberikan kesempatan bagi kreativitas anak.

Pada kenyataannya, pola pengajaran dengan ciri berpusat pada guru itu memang sulit untuk dihindari karena guru terlanjur mempunyai memori yang kuat dan melekat sejak pertama mengajar sampai saat ini. Hasilnya, alih-alih siswa paham akan konsep pembelajaran, dia malah tidak paham akan materi yang diberikan selama pembelajaran karena lebih banyak mengantuk, mengobrol, dan asyik dengan gambar di bukunya. Sang guru senang karena pembelajaran terasa tenang, senyap, diam, dan semua wajah tertuju pada guru dengan bibir terkatup tanda setuju. Begitulah warna pembelajaran yang berpusat pada guru dan siswa sebagai konsumen. Sudah saatnya, guru menjadi subjek yang dinamis dan kreatif sehingga mampu menyerap perkembangan pembelajaran masa kini. Untuk lebih jelasnya, perhatikan berikut ini.
  • Mendengarkan penjelasan guru sepanjang hari tanpa memberikan respon dan penilaian terhadap materi yang disajikan
  • Mencatat semua informasi yang dituliskan guru di papan tulis dan didiktekan guru secara lisan tanpa sedikitpun memberikan pandangan dan catatan menurut pikirannya
  • Memberikan jawaban dengan mengulangi kata-kata yang pernah disampaikan guru atau imengulangi nformasi yang tertuang dalam buku teks.
  • Mengulangi kata-kata guru secara koor sewaktu guru memberikan jawaban sepotong-potong dan potongan jawaban yang lain dijawab bersama-sama seperti `kita perlu membuat kali………’ , kata guru dan siswa meneruskan dengan `maaaat’.
  • Menghasilkan karya dan solusi permasalahan setelah disajikan `resep’ rinci dari guru.
  • Membuat laporan dengan bahasa dan pedoman baku dari guru. Kadangkala jenis laporan seperti ini, cukup hanya melengkapi satu atau dua kata pada ruang kosong yang disediakan.
  • Ketika seorang siswa bertanya, `Pak, apakah teori itu dapat diterapkan di sini?’. Guru langsung mengatakan, `Kamu tahu kan bahwa teori itu hanya bias diterapkan di Eropa saja, ya…kan’. Jawaban guru disertai wajah sisnis yang terkesan menganggap pertanyaan siswa itu sebagai pertanyaan konyol.
  • Mengajukan pertanyaan, berkomentar terhadap suatu pendapat, menjawab pertanyaan secara kreatif
  • Membuat karangan kreatif berdasarkan pengalaman dan imajinasinya. Kadangkala dalam karangan itu disertai gambar untuk memperjelas bahasa tulis.
  • Memberikan jawaban sendiri secara kritis dengan alasan melalui hasil penalaran logis
  • Mengomentari jawban guru sambil mengungkapkan alasan tanda kesetujuannya atau ketidaksetujuaan
  • Menghasilkan karya dalam bentuk model, tulisan, produk teknologi sederhana
  • Membuat laporan dengan bahasa dan pola sendiri. Laporannya penuh imaginasi dan uraian yang disajikan sangat lengkap dan rinci
  • Ketika seorang siswa bertanya, `Pak, apakah teori itu dapat diterapkan di sini?’. Guru langsung mengajukan pertanyaan juga, `Menurutmu bagaimana dapat atau tidak diterapkan? `Kalau dapat, apakah teori itu mengalami penyesuaian?’ `Kalau tidak dapat, apakah tidak teori itu digantikan teori lain?’
Guru berprestasi tidaklah akan cepat puas dengan salah satu tindakan yang dilakukannya di dalam kelas sebelum mendapatkan hasil yang memuaskan bagi dirinya, siswa, dan kepentingan akademis. Banyak jalan menuju Roma, begitu pula banyak jalan untuk menjadi guru yang terbaik di antara yang baik. Guru yang seperti itu biasanya apabila mengajar selalu:
1. berpusat pada siswa
2. lebih senang pola induktif daripada deduktif
3. menarik dan menantang dalam menyajikan mata ajar
4. berorientasi pada kompetensi siswa
5. menekankan pembelajaran bukan pengajaran
6. memvariasikan model dan teknik pembelajaran
7. menggunakan sentuhan manusiawi
8. menggunakan media belajar yang menghasilkan pesan maksimal
9. menilai secara autentik
10. mengedepankan citra mengajar

Berikut ini  perbandingan pola mengajar konvensional dengan pola multimodel.
  • Guru berceramah apapun materinya.
  • Guru melakukan berbagai cara seperti: kata kunci, skema, resume, gambar, menyusun potongan konsep, isian lanjutan, analogi, permainan, dst.

Pada kenyataannya, guru berprestasi belum menjadi bagian dari hidup seorang guru secara otomatis dan serta merta karena taraf hidup yang masih di bawah standar. Hal tersebut menjadi sebuah catatan penting dalam menapaki budaya prestasi seorang guru. Untuk itu, perlu upaya pemberdayaan guru dengan (1) menaikkan tarap hidup melalui penguatan kesejahteraan, (2) mentransplantasikan pembelajaran modern secara top-down, (3) menguatkan kesadaran alamiah secara bottom-up, (4) membangun budaya kinerja yang berorientasi pada roh kebenaran pendidikan, (5) dan meningkatkan kadar ketangguhan, kekenyalan, dan keswadayaan guru.

Bagian IV

Dengan begitu, amatlah jelas bahwa guru berprestasi merupakan aspek penting dalam kemajuan pendidikan di sekolah. Apalagi, saat ini, Indonesia mulai berbenah diri dalam pelaksanaan pendidikan bagi warganya melalui diversifikasi kurikulum yang dapat melayani kemampuan sumber daya manusia, kemampuan siswa, sarana pembelajaran, dan budaya di daerah. Diversifikasi kurikulum tersebut pada akhirnya dapat menjamin hasil pendidikan bermutu yang dapat membentuk masyarakat Indonesia yang damai/sejahtera, demokratis, dan budaya saing untuk maju. Di sisi lain, perubahan zaman yang semakin cepat menuntut pembelajaran dapat mengimbangi perubahan tersebut.

Mengajar merupakan tugas yang sangat kompleks. Tugas kompleks tersebut tentunya juga dimiliki oleh guru berprestasi. Menurut Arends (dalam Kardi dan Nur, 2000:6), menjadi seorang guru berprestasi memerlukan sifat-sifat sebagai berikut.
  • Guru yang berhasil memiliki kualitas pribadi yang memungkinkan ia mengembangkan hubungan kemanusiaan yang tulus dengan siswa, orang tua, dan kolega-koleganya.
  • Guru yang berhasil mempunyai sikap yang positif terhadap ilmu pengetahuan. Mereka menguasai dasar-dasar pengetahuan tentang belajar dan mengajar; menguasai pengetahuan tentang perkembangan manusia dan cara belajar; dan menguasai pengajaran dan pengelolaan kelas.
  • Guru yang berhasil menguasai sejumlah keterampilan mengajar yang telah dikenal di dunia pendidikan untuk mendorong keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran dan meningkatkan hasil belajar.
  • Guru yang berhasil memiliki sikap dan keterampilan yang mendorong siswa untuk berpikir reflektif dan mampu memecahkan masalah. Mereka memahami bahwa belajar pengelolaan pembelajaran yang baik merupakan proses yang amat panjang sama halnya dengan profesi lain, yang memerlukan belajar dan interaksi secara berkelanjutan dengan kolega seprofesi.
Pembelajaran apapun yang digunakan guru, Dryden dan Vos (2000:296) secara khusus menyarankan kepada guru agar menggunakan enam kiat mengajar dengan efektif apabila mengharapkan hasil belajar siswa secara maksimal. Keenam kiat mengajar dengan efektif di kelas sebagai berikut :
a. Ciptakan kondisi yang benar
1) Orkestrakan lingkungan
2) Ciptakan suasana positif bagi guru dan murid
3) Kukuhkan, jangkarkan, dan fokuskan
4) Tentukan hasil dan sasaran; AMBAK—Apa Manfaatnya Bagiku?
5) Visualisasikan tujuan Anda
6) Anggaplah kesalahan sebagai umpan balik
7) Pasanglah poster di sekeliling dinding
b. Presentasikan dengan benar
1) Dapatkan gambar menyeluruh dahulu, termasuk perjalanan lapangan
2) Gunakan semua gaya belajar dan semua ragam kecerdasan
3) Gambarlah, buatlah pemetaan pikiran, dan visualisasikan
4) Gunakan konser musik aktif dan pasif

c. Pikirkan
1) Berpikirlah kreatif
2) Berpikirlah kritis—konseptual, analitis, dan reflektif
3) Lakukan pemecahan masalah secara kreatif
4) Gunakan teknik memori tingkat tinggi untuk menyimpan informasi secara permanen
5) Berpikirlah tentang pikiran Anda

d. Ekspresikan
1) Gunakan dan praktikkan
2) Ciptakan permainan, lakon pendek, diskusi, sandiwara—untuk melayani semua gaya belajar dan semua ragam kecerdasan

e. Praktikkan
1) Gunakan di luar sekolah
2) Lakukan
3) Ubahlah murid menjadi guru
4) Kombinasikan dengan pengetahuan yang sudah Anda miliki

f. Tinjau, Evaluasi, dan rayakan
1) Sadarilah apa yang Anda ketahui
2) Evaluasilah diri/teman/dan siswa Anda
3) Lakukan evaluasi berkelanjutan

Bagian V

Dari kupasan di atas, tampak jelas bahwa guru berprestasi memerlukan perubahan paradigma pendidikan dari pengajaran bergeser ke pembelajaran. Perubahan tersebut tentunya membutuhkan orang-orang yang berani menguji, memperbaiki, bahkan mengubah sistem dengan menyesuaikan realitas yang ada dan berkembang selama ini di masyarakat. Orang-orang tersebut meyakini bahwa dunia sudah berubah. Kemudian, mereka juga harus siap berubah. Mereka tidak hanya terkungkung oleh dunia verbalistis, yakni hanya sanggup berbicara tetapi tidak pernah berani menerapkannya atau tidak dapat menerapkannya. Mereka tidak pula hanya NATO (Nothing Action Talk Only) alias pandai berbicara tanpa pernah melakukan aksi nyata. Bukan mereka yang merasa bisa tetapi tidak bisa dan bukan pula mereka yang menutup diri dari kiprah anak-anak muda karena takut ketahuan ketidakmampuannya. Melainkan, mereka harus konsisten dengan omongannya, berani melakukan ujicoba, tidak takut salah, dan tidak sungkan-sungkan bertanya kepada yang tahu dan mengerti, terbuka, dan akomodatif terhadap ide yang berkembang. Itulah yang dinamakan guru berprestasi.

Saat ini, semua lembaga pendidikan mulai berbenah ke arah konsep pendidikan yang baru. Sekolah formal pun mulai menerapkan kurikulum baru yang mengarah kepada kompetensi dasar dan bermanajemen berbasis sekolah. Kemudian, para orang tua mulai melirik sekolah-sekolah, lembaga-lembaga pendidikan, dan sanggar-sanggar pendidikan yang megutamakan keunggulan. Guru berprestasi juga tentunya harus mengikuti arus perubahan dan berani mengubah paradigma pendidikan. Bukan malah bertahan dalam Status Quo, membentengi diri dengan alasan semua pembaruan sudah ada dalam diri mereka, bukan barang baru, kita semua bisa, dan seabrek alasan lainnya. Yang paling penting adalah berbuat aksi senyatanya dengan mencoba dan mengolah berbagai model pembelajaran berdasarkan kompetensi yang akan dicapai.

Daftar Pustaka

  1. Ardiana, Leo Idra. 2001. Pembelajaran Kontekstual. Makalah.
  2. Bahruddin, Ahmad. 2007. Pendidikan Alternatif Qaryah Thayyibah. Jogjakarta: LKIS.
  3. Brown, H. Douglas. 1987. Principles of Language Learning and Teaching. New Jersey: Prentice-Hall.
  4. Dahar, Ratna Wilis. 1989. Teori-Teori Belajar. Jakarta: Erlangga.
  5. Depdikbud. 1993. Kurikulum Bahasa Indonesia di MA/MA. Jakarta: Depdikbud.
  6. De Porter, Bobbi dkk. 1999. Quantum Learning. Bandung: Kaifa.
  7. ———. 1999. Quantum Bussines. Bandung: Kaifa.
  8. ———. 2001. Quantum Teaching. Bandung: Kaifa.
  9. Dryden, Gordon dan Vos, Jeanette. Revolusi Cara Belajar (bagian I dan II). Bandung: Kaifa.
  10. Fakih, Mansur, dkk. 2001. Pendidikan Popular, Membangun Kesadaran Kritis. Jogyakarta: Insist dan Read Book.
  11. Fairclough, Norman. 1995. Kesadaran Bahasa Kritis (terj. Hartoyo). Semarang : IKIP Semarang Press.
  12. Gardner, Howard. 2003. Kecerdasan Majemuk. Batam: Interaksara.
  13. Johnson, Elaine B. 2002. Contextual Teaching and Learning. California : Corwin Press, Inc.
  14. Low, Albert. 2004. Zen Meditation: Jurus Jitu Menenangkan Jiwa. Jogjakarta: Saujana.
  15. Mulder, Niels. 2007. Mistisisme Jawa: Ideologi di Indonesia. Jogjakarta: LKIS.
  16. Nur, Muhammad. 2000. Strategi-Strategi Pembelajaran. Surabaya: Pusat Studi Matematika dan IPA Sekolah, Unesa.
  17. Rooijakkers, 1982. Mengajar dengan Sukses. Jakarta: Gramedia.
  18. Silberman, Melvin L. 2004. Active Learning. Bandung : Nusa Media.
  19. Sindhunata (ed.). 2000. Membuka Masa Depan Anak-Anak Kita, Mencari Kurikulum Pendidikan Abad XXI. Jogyakarta: Kanisius.
  20. Suyatno dan Subandiyah, Heny. 2002. Metode Pembelajaran. Jakarta: Modul Pelatihan Guru Terintegrasi Berbasis Kompetensi.
  21. Suyatno. 2004. Teknik Pembelajaran Bahasa dan Sastra. Surabaya: SIC.
  22. Suyatno. 2005. Permainan Penunjang Pembelajaran Bahasa dan Sastra. Jakarta: Grasindo.
  23. Shor, Ira dan Freire, Paolo. 2001. Menjadi Guru Merdeka, Petikan Pengalaman. (terjemahan Nashir Budiman). Jogyakarta: LKIS.

*) Drs. Suyatno, M.Pd adalah Ketua Jurusan Bahasa Indonesia, Unesa. Makalah disampaikan dalam Seminar “Kiat dan Strategi Menjadi Guru Berprestasi” yang diadakan oleh Klub Guru, di Auditorium Indosat, tanggal 23 dan 30 Maret 2008
Sumber : dari sini

Friday, May 4, 2012

Memburu Roh Guru Berprestasi (Bagian 1 dari 2 Tulisan)

Di tengah terbukanya arus globalisasi dan informasi, hingga menjadi ''marak"nya peserta didik kita dalam mengidolakan para artis, sampai2 mengabaikan konsentrasi belajarnya yg lebih pokok.  Dari tahun ke tahun kualitas peserta didik semakin turun baik dari segi kualitas maupun identitasya sbg pelajar. Berbagai diskursus tentang dunia pendidikan pun banyak sudah digelar, tetapi perubahan karakter siswa maupun pendidiknya tidak ada perbaikan yang signifikan. Baik juga untuk kita urun rembug mendiskusikan tentang dunia pendidikan dinegeri kita ini agar lebih baik lagi. Yang menjadi pertanyaan dimanakan letak kesalahannya, sistem pendidikankah, murid atau guru sbg pendidik ?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, tentu tidak lepas dari sejauhmana seorang guru dapat memahami perannya sebagai seorang guru agar dikatakan menjadi guru yang  berhasil atau berprestasi? baiknya kita telaah narasi di bawah ini.

Perempuan, guru, Bu Mus, dengan asyiknya berbincang dengan para siswa yang hanya berjumlah 12 anak, meskipun gedung mau ambruk, lantai kusam, dan dinding bolong-bolong. Keasyikan seorang ibu guru yang berbayar rendah itu berjalan mulus karena sesuai dengan titik sentuh murid-muridnya. Pada akhirnya keduabelas murid itu melangkah untuk menjalani perkembangan diri sesuai dengan karakteristik masing-masing. Ketika besar, anak-anak itu menjadi orang. Apakah Bu Mus yang telah membingkai keduabelas anak itu disebut guru berprestasi?

Kemudian, Pak Fredy seorang guru yang energis, sering ikut pelatihan, akrab dengan internet, dan dikenal pimpinan, selalu memenangi beberapa perlombaan untuk guru. Murid-muridnya senang akan kessuksesan Pak Fredy. Namun, dari 40 murid, hanya lima murid yang kelak mampu menemukan jati dirinya, sedangkan yang lainnya sampai tua masih mencari-cari jati diri. Hal itu terjadi karena Pak Fredy lebih mengutamakan kemajuan anak-anak tertentu asalkan materi pembelajaran dapat terlaksanakan sesuai kurikulum. Apakah Pak Fredy dapat disebut guru berprestasi?

Lain lagi dengan Pak Toyo, tidak pernah kenal internet, buta dengan lomba, dan penampilan biasa-biasa saja, namun dia mengenali muridnya satu demi satu sehingga mampu menentukan menu pembelajaran yang sesuai dengan masing-masing anak. Pak Toyo selalu datang ke sekolah tepat waktu, menyapa anak, dan melihat materi yang akan diajarkan. Kebiasaaan itu menjadi warna sehari-hari Pak Toyo. Murid-muridnya mampu menembus jati diri masing-masing sehingga berkembang sampai pada tingkat pendidikan yang tertinggi dan mendulang pekerjaan sesuai dengan karakternya. Apakah Pak Toyo disebut guru berprestasi?

Sebenarnya, kita sangat susah menentukan apakah guru itu berprestasi atau bukan sebelum mengetahui apa yang dimaksud dengan berprestasi. Kalau guru prestasi diukur melalui keberhasilan anak menemukan jati dirinya, Ibu Mus dan Pak Toyolah yang disebut berprestasi. Namun, jika berprestasi dimaknai sebagai sering menang lomba, jago internet, dan dekat dengan pimpinan, Pak Fredylah yang jadi guru berprestasi. Kalau kedua orang itu dikatakan sebagi guru yang berprestasi, guru lain yang jumlahnya mungkin ribuan bahkan jutaan di Indonesia yang tidak akan seperti kedua guru dapat dikatakan tidak berprestasi. Artinya, saya dan pembaca yang lain pernah dan bahkan selalu diajar oleh guru yang tidak berprestasi.

Bagian II

Kata berprestasi mengarah pada keunggulan, keberhasilan, dan kepuncakan sesuatu. Kalau memang demikian artinya, sangat susah untuk menentukan apakah seorang guru itu berprestasi atau bukan. Prestasi sebenarnya merupakan perwujudan makna kesadaran penuh seseorang. Seseorang mecuci piring lalu piring itu bersih bukan sebuah prestasi, tetapi seorang mencuci piring mencoba untuk lebih sadar dalam mencuci piring, lebih menyadari gerakan tangannya dan menyadari perbuatannya demi kesehatan orang lain justru itulah yang lebih dapat dikatakan berprestasi. Begitu pula guru yang mengajar lalu nilai anak itu tinggi bukanlah sebuah prestasi. Namun, guru yang mengajar sehingga nilai anak itu tinggi kemudian merasakan kesadaran penuh proses mengajarnya, sadar akan perubahan yang terjadi dalam diri muridnya, dan sadar bahwa nilai tinggi itu memberikan motivasi bagi anak untuk berjuang lagi dapat dikatakan sebuah prestasi.

Oleh karena itu, siapapun guru itu perlu untuk mencoba mengambil peran aktif dalam membangkitkan kesadaran dirinya. Pada akhirnya, kesadaran sebagai seorang guru menjadi dasar dari segalanya, termasuk semua tindakan, semua pikiran, dan semua perasaannya. Seorang master dari Tibet (dalam Zen Meditation, 2004:110), berkata bahwa menggabungkan kesadaran dan tindakan seperti mencampur minyak dengan air, seperti mencoba keluar dari kulit kita sendiri. Oleh karena itu, guru berprestasi tidak perlu mencampurkan antara kesadaran tindakan, pikiran, dan perasaan namun cukup menyinergikan ketiga aspek itu. Guru yang mempunyai kesadaran penuh dapat dikatakan telah masuk pada wilayah kebenaran sebuah pembelajaran. Jadi, guru berprestasi adalah mereka yang berada dalam sebuah kebenaran.

Kebenaran tentang hubungan dengan murid, kebenaran dalam penggunaan media, kebenaran memilih materi, kebenaran memainkan metode, kebenaran sebagai seorang guru, dan kebenaran tentang jembatan sebuah kehidupan merupakan dasar yang harus dimiliki oleh seorang guru. Ibu Atik, yang sadar bahwa dalam pemahaman sebuah konsep ilmu, anak memerlukan sarana untuk masuk dalam titik sentuhnya. Ibu Atik dapat dikatakan telah mempunyai pemahaman pada sebuah kebenaran media. Pak Giran, yang sadar bahwa kedekatannya dengan murid menumbuhkan kekuatan cinta dapat dikatakan sebagai seseorang yang menjalankan kebenaran berhubungan dengan muridnya. Pak Mukhson, yang sadar tidak semua materi cocok dengan muridnya kecuali materi yang telah diseleksi dapat dikatakan sebuah telah memahami kebenaran dalam pemilihan materi. Begitu pula seterusnya, guru membangun kebenaran sejati untuk masuk dalam ruang pendidikan yang sebenarnya.

Dari uraian di atas, dapat dikatakan berprestasi merupakan wujud dari sebuah pencapaian kebenaran. Guru berprestasi adalah guru yang berada dalam roh kebenaran sejati yang sadar akan citra diri berdasarkan ketulusan dan keikhkasan. Sebaliknya, guru yang tidak berprestasi adalah guru yang pura-pura berada dalam jalur kebenaran tetapi justru merusak perkembangan anak baik secara pelan-pelan maupun frontal.

Sebenarnya, secara kodrati semua manusia berada dalam lingkungan kesadaran atas sebuah kebenaran kehidupan sehingga melahirkan ketulusan dan keikhlasan. Begitu pula guru, sebagai seorang manusia secara alamiah mempunyai aliran roh kebenaran yang mampu diwujudkan dalam situasi ketulusan dan keikhlasan. Namun, tidak semua guru menyadari akan kekayaan dirinya atas roh kebenaran karena tertutup oleh kemalasan, egoisitas, berpikir pendek, jalan pintas, tidak mau susah, dan cepat puas. Secara realitas justru jumlah guru yang lupa akan roh kebenarannya lebih banyak daripada yang mempunyai kebenaran sejati. Akibat sistem pendidikan yang belum menyentuh roh kebenaran pendidikan, budaya jalan pintas masyarakat, dan tuntutan ekonomis.

Saat ini, guru berprestasi hanya diukur melalui kuantitas portofolio guru dan hasil ucapan guru ketika di depan dewan jurinya saat lomba berlangsung. Tidak pernah guru berprestasi tersebut diukur secara mendalam tentang kepemimpinan, kepribadian, ketulusan, dan keikhlasan kepada murid maupun masyarakat sekitarnya. Lihat saja, sekarang guru sudah tidak dapat digugu dan ditiru murid-muridnya apalagi oleh masyarakatnya. Guru hanyalah sebagai sebuah instrumen yang melengkapi sebuah mesin untuk memproduksi hasil berupa angka-angka. Bahkan, secara individu tidak lagi didapati jiwa guru yang penuh dengan roh kebenaran sehingga banyak guru yang tidak yakin bahwa dirinya benar-benar seorang guru.

Semua orang sebenarnya seorang guru manakala mampu mengubah generasi muda dari belum tahu menjadi tahu, dari belum mengerti menjadi mengerti, dari belum paham menjadi paham, dari belum bisa menjadi bisa, dan dari brutal menjadi jiwa yang halus. Hakikatnya guru adalah bagian dari hierarki moral. Melalui mereka atau lebih tepatnya melalui kebijaksanaan mereka, rakyat dituntun agar tetap berada di jalan yang benar. Mulder menyebutkan bahwa guru adalah orang yang memiliki wahyu untuk membagi pewahyuan, membagi kebenaran kepada murid sehingga murid tersebut mempunyai kebijaksanaan (2007:189).

Guru berprestasi bukanlah sebatas sebuah instrumen bagi sebuah perjalanan program pendidikan, namun merupakan roh kehidupan agar menajadi kehidupan yang lebih baik. Untuk mencapai guru yang benar-benar berprestasi luar dalam perlu waktu dan perubahan budaya serta paradigma berpikir dari semua elemen masyarakat. Memang tampaknya sangat susah mewujudkan guru berprestasi yang berdasarkan roh kebenaran, tetapi kalau didekati dengan kebenaran dari berbagai pihak akan menjadi sebuah gambaran nyata.

Berlanjut ke Bagian Tiga......



Saturday, April 21, 2012

Ponpes Attaqwa: Belajar kepada yang lebih 'Tua', kenapa tidak?

KH Abdullah Syukri Zarkasyi; Bekali Santri dengan Jiwa Perjuangan
Sebuah semangat yang perlu dicontoh dan diteladani disaat perkembangan dan kualitas dunia pesantren mengalami penurunan di banding beberapa tahun yang lalu. Kini pesantren kalah pamor dan kurang memberi 'solutif' bagi wali murid yang mengharapkan anaknya menjadi orang yang sukses, tetapi tidak demikian bagi Pondok Pesantren Gontor. 

Bagi alumni Gontor, bukan hanya sukses dalam finansial, tetapi lebih dari itu, para alumninya sukses menjadi kader yang bisa bergerak dan menggerakkan, bisa hidup dan menghidupi, serta bisa berjuang dan memperjuangkan. Di mana pun mereka berada, mereka membawa kemaslahatan ummat. Demikian visi yang ditanamkan Gontor dalam mendidik santrinya yang disampaikan oleh K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi.

Kiri-kanan : KH. Moh. Amin Noer (Putranya), Almaghfurlah KH.Noer Alie
Apa yang menjadi visi dan Misi Pondok Modern Gontor Darussalam, Ponorogo Jatim, tidak jauh berbeda apa yang menjadi harapan dan cita-cita Almaghfurlah KH. Noer Alie (Pendiri Ponpes Attaqwa Bekasi) sejak awal pendirian Pesantren maupun saat estafeta kepemimpinnya dititahkan  kepada putra pertamanya KH. Moh. Amin Noer, agar alumni Pondok Pesantren Attaqwa diarahkan bukan hanya sekadar mandiri secara pribadi, melainkan memandirikan lembaganya dan orang lain yang tertuang dalam visi Ponpes Attaqwa: Bener, Pinter, Trampil dan Disiplin dengan tujuan  mencetak kader-kader umat di daerahnya masing-masing. 

Namun Attaqwa saat ini masih jauh dari harapan dan cita-cita Almaghfurlah KH. Noer Alie. Walaupun visi Attaqwa sebetulnya jauh lebih ke depan dibanding Gontor, dimana Pesantren Attaqwa khusus putri yang semula diberi nama al-Baqiyatussolihat (sekarang Pesantren Attaqwa Putri) sudah ada sejak tahun1965, sedangkan Gontor khusus putri baru dibangun tahun 1991 yang lalu. Perbedaan yang mencolok Gontor khusus pesantren putrinya memiliki jauh lebih besar (diluar Jawa) sementara Ponpes  Attaqwa baru hanya memiliki 1 Pondok khusus Putri.

Dengan latar belakang itulah marilah kita bangun kembali ghiroh untuk kembali meluruskan 'khittah' visi dan misi Pondok Pesantren Attaqwa yang telah diamanahkan Almaghfurlah KH. Noer Alie kepada generasi penerusnya, murid-muridnya, serta guru-guru, khususnya kepada pengelola Yayasan Attaqwa agar lebih baik lagi. 

Kenapa tidak? Marilah kita berkaca sejenak dan belajar kembali kepada sang maha guru Pondok Modern Gontor  seperti apa yang telah dilakukan oleh generasi penerusnya, KH. Abdullah Syukri Zarkasyi. Berikut adalah aktifitas sehari-hari beliau kepada anak didiknya yang saya kutip dari  media online Republika.co.id.

Ada kegiatan yang kerap dilakukan KH Abdullah Syukri Zarkasyi. Di sela-sela kesibukan memimpin Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, ia hampir rutin mengunjungi masjid dan langgar (mushala) binaan yang berada di desa-desa sekitar pesantren. Rutinitas itu dilakukan usai joging pada pagi hari dengan menyusuri persawahan di lingkungan Desa Gontor.

Berkeliling dari desa ke desa, mengamati dari dekat perkembangan tempat binaan tadi. Jumlah masjid serta langgar binaan kini telah mencapai ratusan. Sebagian lantas mendirikan lembaga pendidikan agama, semisal TPA, TK, MTs, atau MA bagi warga sekitar.

Kiai Syukri dengan tanpa kenal lelah mencarikan pendanaan bagi upaya pembangunan serta pengembangan tempat-tempat ibadah binaan tersebut. Berkat jaring an internasional yang luas, bantuan datang dari berbagai negara Islam. Pemberdayaan dan pembinaan masyarakat menjadi perhatian penting Kiai Syukri Zarkasyi.

Baginya, tak cukup hanya di pesantren semua aspek terpenuhi, tetapi ling kungan sekitar juga harus baik. Dan yang dilakukan tokoh kelahiran Ponorogo, 19 September 1942, dengan membina warga sekitar, adalah wujud nyata semangat tadi.

Dijelaskan Kiai Syukri, para santri nantinya akan kembali ke masyarakat sehingga selama di pondok mereka dibekali dengan ilmu, keterampilan, dan karakter kuat. Dengan demikian, mereka mampu berkiprah di mana pun berada. Inilah pendidikan kemandirian.

Para santri mendapat pendidikan, pengajaran, dan pelatihan agar terbangun jiwa mandiri. Mereka diarah kan bukan hanya sekadar mandiri secara pribadi, melainkan memandirikan lembaganya dan orang lain. Itu sesuai dengan visi Pondok Gontor, yakni mencetak kader-kader umat.

Santri senantiasa dilatih, diberi penugasan, dan didi siplinkan. Mereka mengelola unit usaha sendiri di lingkungan pesantren. Guru dan santri kemudian menjaga toko, mengurus sawah, mengelola penggilingan padi, atau pun mengelola pabrik roti.

Terdapat sekitar 32 unit usaha yang ditangani santri dan guru. Hasilnya, hampir Rp 10 miliar per tahun. “Dengan sistem kemandirian dalam bidang ekonomi ini, Pondok Gontor bisa membia yai segala keperluan kependidikan dan kesejahteraan tenaga pengajar dan karyawan, bahkan membantu ekonomi warga sekitar,’’ katanya.

Kiai Syukri berpendapat, pesantren harus menjadi lapangan perjuangan dan hendaknya dilaksanakan dengan kesungguhan. Karena itu, aspek pendidikan serta pelatihan-pelatihan tadi sangat bermanfaat dalam membentuk watak. Dengan bekal tersebut, para alumnus Gontor sanggup berjuang di mana saja.

“Itulah orang besar. Orang besar menurut Gontor adalah yang bersedia mengabdi dan berjuang di masyarakat dengan segala keikhlasannya meski di kampung kecil atau langgar terpencil,’’ tegas dia.

Mereka mengejawantahkan visinya sebagai kader umat. Kader yang bisa bergerak dan menggerakkan, bisa hidup dan menghidupi, serta bisa berjuang dan memperjuangkan. Di mana pun berada, mereka membawa kemaslahatan.

Kini, di berbagai daerah, para alumnus mendirikan BMT, sekolah, ataupun pesantren. Ada pula yang membina masjid dan mushala. Satu hal yang membanggakan. Dari semangat dan keikhlasan para alumnus, telah berdiri sebanyak 211 pondok pesantren.

Lebih jauh, putra pertama salah seorang tokoh pendiri Pondok Modern Gontor, KH Imam Zarkasyi, ini mengharapkan, para alumnus memberikan sumbangsih terbaik bagi masyarakat. Mereka bisa menularkan jiwa kemandirian, keikhlasan, maupun perjuangan, seperti diajarkan di Gontor. Dengan demikian, terwujud sebuah perubahan di tengah umat dan bangsa menuju ke arah lebih baik.

Seiring dengan itu, kepercayaan masyarakat kepada Pondok Modern Gontor semakin besar. Daya tampung di Pondok Gontor 1 yang `hanya' sekitar 4.500 santri tak mencukupi. Karena itu, pada 90-an, Pondok Modern Gontor dikembangkan dengan membuka cabang-cabang baru, semisal Gontor 2, 3, 4, dan seterusnya.

“Pondok Gontor kini sudah ada di sejumlah daerah, harapan kita bisa membangun sebanyak 30 cabang,'' papar Kiai Syukri. Kemudian, ada keinginan sebagian masyarakat untuk memondokkan putrinya. Sesuai pesan pendiri Gontor, jarak putri harus 100 kilometer.

Karena itulah, pondok putri dibangun di Mantingan, Ngawi, pada 1991. Secara keseluruhan, saat ini telah berdiri sekitar 19 cabang Pondok Gontor. Di antaranya terdapat di Aceh, Sulawesi, Lampung, Poso, Kampar, Kediri, Tanjung Jabung, Magelang, dan dengan jumlah santri 22 ribu orang.

Kiai yang sejak muda aktif dalam berbagai organisasi ini sekarang banyak terlibat dalam berbagai lembaga, baik di pemerintahan maupun tidak. Ia tercatat pernah menjadi pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Ciputat, pengurus Himpunan Pemuda Pelajar Islam (HPPI) Kairo, pengurus Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Den Haag, Belanda, serta Ketua MUI Ponorogo.

Adapun jabatan yang masih dipegang, antara lain ketua umum Majelis Pertimbangan Pendidikan dan Pengajaran Agama (MP3A) Kementerian Agama, ketua Badan Silaturahim Pondok Pesantren (BSPP) Jawa Timur, ketua MUI Pusat, dan anggota ahli Majlis Tanfidh Rabitah al-Jami'ah al-Islamiyyah al-Alamiyyah, Kaherah, Mesir.

Tak hanya itu, Kiai Syukri banyak mengadakan kunjungan ke berbagai negara untuk keperluan seminar, kunjungan budaya, ataupun studi perbandingan. Dia juga gencar menjalin kerja sama dengan lembaga pendidikan mancanegara, seperti Universitas Al Azhar Kairo, International Islamic University Malaysia, ataupun Al Ahqaf University Yaman.

Bagi dia, segala tugas dan tanggung jawab yang dilaksanakan selama ini adalah demi memberikan ushwatun hasanah.

Saturday, March 3, 2012

Moodle Untuk SMP/SMA

Di akhir tahun 2011 saya salah seorang peserta PLPG di bawah pembinaan UPI. Di sesi materi workshop Mr. Herbert (Dosen UPI) memberikan pengantar Manfaat Pembelajaran E-Learning dengan menggunakan aplikasi Moodle. Hingga saat ini rencana pembuatan moodle untuk SMP Attaqwa Pusat Bekasi di tempat saya mengajar belum menemukan model yang pas untuk kalangan siswa SMP, karena memang penggunaan Moodle populer digunakan hanya untuk kalangan Perguruan tinggi dari Dosen untuk Mahasiswa atau sebaliknya. Yang menjadi pertanyaan saya adalah untuk kedepan apa sih sebenarnya keuntungan dari e-learning untuk tingkat SMP/SMA?

Tuesday, December 13, 2011

SITUS DAPODIK ORG TUTUP

Webpage Situs Dapodik Baru
Jika anda membuka situs pendataan DAPODIK, anda akan dikagetkan sebuah pemberitahuan penutupan situs dapodik.org yang berisi pengumuman dan sekaligus penon-aktifan penggunaan akun oleh Operator Sekolah sebagai pengentry data.
Dalam rakor di bogor selain membicarakan penutupan situs, juga membicarakan kebijakan baru bahwa pendataan siswa untuk memasukkan NISN sifatnya boleh, boleh ada boleh tidak (dikosongkan).


Kaitannya penutupan situs dapodik.org berlaku mulai tanggal 1 jan 2012, dapodik.org, begitu di webnya tertulis, dan diganti dengan nisn.data.kemdiknas.go.id dan penjelasan system kerjanya juga sudah dijelaskan oleh pengembang dapodik jilid 2 ini ke rekan2 operator pada pertemuan di bogor. Ada  apa sih sebenarnya yang terjadi? Mao ngurusin pendidikan apa ngurusin beuteung dewek sih,  ga tau deh... gelap!

Berikut laporan salah seorang operator yang mengikuti Rakor di Bogor yang saya forward dari milis resmi dapodik.

Friday, October 14, 2011

RPP DAN DOWNLOAD RPP SILABUS BERKARAKTER

Sahabat Guru SMP yang membutuhkan Perangkat Guru untuk kelengkapan Belajar Mengajar Silahkan silahkan download RPP dan SILABUS yang sudah berkarakter berikut ini. 
RPP TIK Berkarakter SMP - Silabus RPP TIK Berkarakter SMP, Banyak juga guru yang bertanya bagaimana sih contoh rpp tik berkarakter 2011/2011 maupun silabus berkarkternya, Nah dibawah ini saya memberikan sedikit gambarannya tentang Materi maupun langkah -  langkar proses pembelajaran dari isi rpp tik berkarakter smp ini.

RPP TIK Berkarakter SMP serta silabus tik berkarakter smp kelas 7 8 9 ini mudah mudaham mampu membantu anda dalam menyelesaikan perangkat mengajar anda.

Monday, August 29, 2011

Mengapa Ibadah Selalu Diulang-ulang?

Photo :Ayumi
Beberapa hari yang lalu banyak yang saya dapatkan di Padepokan Budi Rahardjo tentang kenapa kita beribadah harus berulang-ulang? misalnya melaksanakan berpuasa, membaca bacaan-bacaan sholat juga diulang-ulang. Tidak hanya dalam beribadah, dalam dunia ngeblog juga perlu ada pengulangan-pengulangan, misalnya untuk memulai postingan kita harus selalu login dan logout. Mengapa kita harus melakukan pengulangan seperti ini dan kenapa tidak dilakukan sekali saja? Nah, ternyata pengulangan (repetisi) itu memiliki tujuan dan banyak manfaat!. Agan-agan pasti punya banyak alasan untuk menjawabnya.

Dalam 'pengajian'  di Padepokan yang ane ikutin, mudah-mudahan ada hikmah yang kita ambil dari alasan-alasan yang dikemukakannya, mudah-mudahan bermanfaat.

Saturday, May 21, 2011

Syarat Usul Inpassing dan Prosedurnya

Inpassing  Guru  Bukan  Pegawai  Negeri  Sipil  adalah  proses penyesuaian kepangkatan Guru Bukan Pegawai Negeri Sipil dengan kepangkatan Guru Pegawai Negeri Sipil.

Inpassing Jabatan Fungsional Guru Bukan Pegawai Negeri Sipil  dan  Angka  Kreditnya  ditetapkan  berdasarkan  dua hal, yaitu
a.  Kualifikasi akademik
b.  Masa  kerja,  dihitung mulai  dari  pengangkatan  atau penugasan sebagai Guru Bukan Pegawai Negeri Sipil pada satuan pendidikan.

Tabel Angka Kredit Inpassing GBPNS

Peraturan Pemerintah  Nomor  41  Tahun  2009  tentang  Tunjangan  Profesi  Guru  dan Dosen,  Tunjangan  Khusus  Guru  dan  Dosen,  serta  Tunjangan  Kehormatan Profesor,  mengamanatkan bahwa guru yang telah memiliki sertifikat pendidik, baik yang  berstatus pegawai negeri sipil maupun yang bukan pegawai negeri sipil  dan  memenuhi  persyaratan  sesuai  dengan  ketentuan  peraturan perundang-undangan  diberi  tunjangan  profesi  dan  tunjangan  khusus  setiap bulan. Tunjangan profesi dan tunjangan khusus bagi guru pegawai negeri sipil yang menduduki  jabatan  fungsional  guru  diberikan  sebesar 1 (satu)  kali  gaji pokok  pegawai  negeri  sipil  yang  bersangkutan  sesuai  dengan  ketentuan perundang-undangan  setiap  bulan. Sedang  bagi  guru  bukan  pegawai  negeri sipil,  tunjangan  profesi  dan  tunjangan  khusus  diberikan  sesuai  dengan kesetaraan  tingkat,  masa  kerja,  dan  kualifikasi  akademik  yang  berlaku  bagi guru pegawai negeri sipil.

Monday, April 18, 2011

Tahun Ini Ujian Nasional Berbeda

Beberapa hari lagi Ujian Nasional akan digelar serentak di seluruh Indonesia, mulai Senin,18/4/2011 untuk jenjang SMA/SMK, dan 25/4/2011 untuk jenjang SMP/MTs. Dengan sekuat tenaga, pikiran, berupaya  membagi waktu  untuk tetap konsentrasi walau 'godaan' di lingkungannya tambah banyak, salah satunya adalah kegemaran membuka FACEBOOK.  Perbedaan dalam penilaian kelulusan siswa pada Ujian Nasional tahun ini dibanding tahun sebelumnya tercermin dalam PerMendiknas RI No. 46 Tahun 2010 Tentang Pelaksanaan Ujian Sekolah dan Ujian Nasional (US/UN). Kegiatan ini merupakan tahapan pendidikan terakhir bagi peserta didik dalam menyelesaikan kegiatan belajarnya di bangku sekolah baik tingkat Dasar, Menengah dan tingkat Atas (SMA/SMK). 

Ujian Nasional  dan Ujian Sekolah (US/UN) merupakan alat ukur dan penilaian kompetensi siswa secara nasional baik yang dilakukan oleh Diknas  dan  pihak sekolah yang meliputi semua mata pelajaran kelompok ilmu pengetahuan dan teknologi, dan bagi tingkat keahlian ditambah praktikum.

Wednesday, August 18, 2010

Profile Perguruan Tinggi Di Indonesia

Meski calon peserta mahasiswa sudah mengetahui hasil Ujian  Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi yang dipilihnya dan sebentar lagi akan memasuki masa aktif kuliah, tidak salah anda  harus mengetahui profile perguruan tinggi yang ada di seluruh Indonesia sebagai wawasan ilmu pengetahuan. Profile perguruan tinggi yang ada di Indonesia baik Negeri maupun Swasta dibagi berdasarkan wilayah dan pengelolaan yang berbeda-beda cakupan pengelolaannya.

Monday, April 5, 2010

Memilih Perguruan Tinggi Yang Tepat

Mendiknas boleh berlega hati setelah pelaksanaan Ujian Nasional (UN) 2010 akhirnya terlaksana juga, walaupun  pelaksanaan Ujian Nasional (UN) tahun ini  kontroversial kaitannya tentang  putusan MA. Namun berjalan lancar dan aman kendati masih saja ditemukan jual beli soal sering terjadi setiap tahunnya.

Dalan kesempatan ini saya tidak membahas  kontra  dua lembaga tersebut  atau  kemana  dan bagaimana pelaksanaan UN mendatang, akan tetapi  saya hanya ingin berbagi informasi tentang tips dan cara sebelum memutuskan memilih perguruan tinggi yang tepat bagi  siswa/siswi SMU/SMK yang telah lulus dan akan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Tidaklah salah -sambil menunggu  pengumuman resmi Mendiknas tentang hasil Ujian Nasional (UN)-  untuk mempersiapkan langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan sebelum memutuskan  dalam memilih perguruan tinggi idaman anda.

Para orang tua calon mahasiswa  saat ini  sedang repot-repotnya memikirkan  putra/putrinya memilih perguruan  tinggi mana yang menjadi  pilihan tepat,  terutama masalah biaya kuliah yang tambah mahal. Semua orang tua pasti  berniat/bercita-cita ingin anaknya menjadi orang yang sukses dalam belajarnya, atau dapat melanjutkan  ke jenjang yang lebih tinggi. Keinginan  itu bukan hanya dominasi kaum berada (orang kaya) saja, kaum lemahpun (orang miskin)  mempunyai hak dan keinginan yang sama, mungkin hanya  prosesnya yang berbeda. Insya Allah bagi kaum lemah jika orang tua memiliki niat yang kuat untuk menyekolahkan anaknya ke jenjang lebih tinggi akan terkabul. Bukankah dalam hal rizki manusia diberi kesempatan yang sama untuk memperolehnya, sebagaimana firman Allah SWT  “Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya. Dan memberi-Nya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (Q.S.Ath-Thalaq: 2-3). Merupakan dambaan dan harapan  semua orang tua tentunya.

Sebelum melangkah lebih jauh dan mungkin perlu sebagai bahan informasi untuk mengetahui lebih detail tentang beberapa perguruan tinggi terbaik, perguruan tinggi favorite, perguruan tinggi idaman, dan beberapa perguruan tinggi islam dapat anda lihat profilenya di sini.
 
Tips Memilih Perguruan Tinggi

Untuk memilih perguruan tinggi yang ideal dan tepat atau yang sesuai dengan keinginan tidaklah sulit, walaupun  begitu ternyata masih banyak diantara siswa/siswi SMA/SMK yang baru lulus mengalami kesulitan dalam menentukan perguruan tinggi pilihannya. Untuk itu diupayakan penguasaan berbagai  sumber informasi. yang lengkap. Karena minimnya informasi dan sulitnya menentukan pilihan, tidak sedikit yang pada akhirnya putus di jalan dan pindah sekolah. Sekarang ini di era digital dan teknologi yang semakin maju dan serba terbuka, mencari informasi Perguruan Tinggi/Universitas baik lokal ataupun sekolah internasional dapat dengan mudah diperoleh baik melalui  koran, televisi, dan situs-situs internet. Salah satu situs yang memuat secara lengkap tentang  Daftar Perguruan Tinggi dapat dilihat di situs Wikipedia dan banyak situs-situs lainnya. Menurut saya cara ini lebih cepat, murah, dan efisien daripada harus capek-capek mendatangi perguruan tinggi/universitas satu persatu.

Sebelum anda menentukan pilihan perguruan tinggi  mana yang menjadi idaman atau favorite anda, alangkah baiknya anda harus memulai dengan beberapa pertanyaan  yang mendasar agar tidak tersesat di jalan.   Menurut Erni Murniasih (2008) pertanyaan yang paling utama dialami oleh calon mahasiswa/mahasiswi saat memasuki jenjang perguruan tinggi sebagai berikut   :
a. Bidang studi apa yang menjadi keinginan dan sesuai dengan bakat anda;
b. Universitas mana yang tepat dengan bidang studinya:
c. Bagaimana lingkungan kampusnya;
d. Universitas pada peringkat keberapa tingkat lokal ataupun internasional;
e. Berapa biaya kuliah, dan biaya hidup selama kuliah.

Dari beberapa point pertanyaan di atas akan saya simpulkan menjadi  4 (empat) point  penting, penjelasannya sebagai berikut :

1. Minat. 
Pikirkan dan pahami apa yang menjadi keinginan (minat) Anda. Anda ingin masuk ke jurusan apa. Kalau Anda sudah mengetahuinya, Anda akan lebih mudah memilih universitas. Hal tersebut bisa terjadi karena nyaris semua universitas memiliki spesialisasi jurusan masing-masing. Kalau Anda merasa kesulitan dalam memilih jurusan, ada baiknya Anda mendiskusikannya bersama orang tua atau bahkan teman seangkatan Anda. Berdiskusi dengan senior juga dianjurkan agar Anda mengerti enak atau tidaknya mendalami jurusan tersebut.

2. Jarak. 
Selain minat, Anda juga harus memikirkan jarak kampus Anda dari rumah. Kalau terlalu jauh, terkadang dapat membuat Anda jadi merugi, baik waktu, tenaga, maupun biaya. Namun, hal tersebut dapat diatasi dengan cara in the cost (ngekost).

3. Keuangan. 
Sebelum Anda memilih sebuah universitas, ada baiknya Anda menyelidiki dan menghitung terlebih dahulu biaya yang diminta oleh pihak perguruan tinggi. Tanyakan atau diskusikan dulu dengan orang tua Anda. Kalau Anda mengalami kesulitan biaya, tidak ada salahnya Anda meminta beasiswa ke perguruan tinggi yang Anda tuju.

4. Universitas/PT 
Selidikilah terlebih dahulu perguruan tinggi yang ingin Anda masuki. Cek terlebih dahulu apakah jurusan yang ingin ambil di perguruan tinggi tersebut memiliki akreditasi yang baik atau tidak. Selidiki juga, apakah perguruan tinggi tersebut memiliki program kuliah yang baik atau tidak. Pikirkan juga, apakah prospek Anda setelah lulus dari perguruan tinggi tersebut. Fasilitas yang disediakan juga perlu jadi faktor penentu.  Era digital dan internet sekarang ini tidak ada alasan  kesulitan mencari informasi. atau kalo masih belum puas juga tidak ada salahnya Anda menanyakan hal tersebut pada teman atau lulusan yang kuliah di perguruan tinggi tersebut.

Selain langkah-langkah di atas, tentunya tidak sampai disitu tetapi dilanjutkan langkah tambahan berikutnya. Untuk langkah berikutnya saya akan bahas pada kesempatan lain. Diakhir tulisan ini akan saya sisipkan link-link  tentang daftar dan profile beberapa perguruan tinggi di Indonesia yang saya sunting  diantaranya dari situs Wikipedia..dan Diknas.go.id

Daftar UMB PTN dan UMB PTS silahkan klik link di bawah ini :
- UMB-PT Pendaftaran Online
- Daftar Masuk Ujian Masuk Bersama PTN (UMB PTN)
- Daftar Masuk Ujian Masuk Bersama PT Swasta (UMB PTS)
- Pendaftaran Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN)  
- Jadwal Pelaksanaan Penerimaan SNMPTN 2010. 

 Daftar nama-nama perguruan tinggi di Indonesia klik link di bawah ini :
- Penjelasan Mendiknas Tentang Putusan MA Tentang UN

- Daftar Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia
- Daftar Perguruan Tinggi Islam Negeri 
- Dafar Perguruan Tinggi Swasta di Indonesia
- Daftar Perguruan Tinggi Islam Swasta
- Daftar Perguruan Tinggi Kedinasan di Indonesia
- Daftar Perguruan Tinggi Swasta di Jakarta
- Daftar Perguruan Tinggi Swasta di Banten
- Daftar Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Barat.
- Daftar Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Tengah.
- Daftar Perguruan Tinggi Swasta di DIYogyakarta
- Daftar Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur.

Daftar Pustaka :
1. Erny Murniasih, Buku Panduan Masuk Perguruan Tinggi Favorite, cet. I, th. 2008
2. Mendiknas. go.id.
3. Wikipedia.org.
4. Kaskus.com
5. Pc.Chip.com
6. Translate Google.com

*) artikel ini pernah diposting di kompasiana.com

Tuesday, February 9, 2010

Lindungi Anak dari Dunia Maya

Dunia maya yang tanpa batas menyimpan bahaya, utamanya buat anak-anak dan remaja. Untuk melindungi anak dari bahaya dunia maya, perlu keterbukaan komunikasi antara orang tua dan anak.
Terdengar klise memang. Namun, sebenarnya itulah kuncinya. 

Wednesday, January 27, 2010

Lomba Blog UII : Tema "Mendefinisikan Perguruan Tinggi Idaman"

Kalau biasanya Kampus Universitas Islam Indonesia (UII) atau pun kampus-kampus lain membuka pendaftaran untuk calon mahasiswa baru, akan tetapi kali ini (kalo tidak salah baru kali ini sebuah kampus membuka lomba blog) mengadakan Lomba Blog (UII Blog Competition). Walaupun yang mengadakan kampus, namun lomba blog ini terbuka untuk para blogger maniac, pemula, calon mahasiswa, mahasiswa atau yang bukan mahasiswa juga bisa mendaftar yang penting memenuhi syarat lomba.

Lomba blog ini adalah murni sebagai ajang kompetisi menulis dikalangan blogger Indonesia dengan dasar penilaian artikel / postingan di blog. Tujuan diadakan lomba blog ini diharapkan tulisan ide-ide kreatif dan inovatif dapat menjadi inspirasi bagi calon mahasiswa, mahasiswa dan pengelola perguruan tinggi untuk mencari masukan langsung dari para peserta blog/masyarakat.

Peraturan peserta lomba secara umum sebagai berikut :
  • Tidak diperkenankan  KARYAWAN dan DOSEN Universitas Islam Indonesia (UII).
  • Pastinya adalah WNI (Warga Negara Indonesia).
  • Tidak ada batasan latar belakang kemampuan peserta, yang dinilai adalah kualitas dan isi postingan yang  menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasan utama, sedangkan artikel berbahasa Inggris dibolehkan hanya sebagai artikel pelengkap saja.
  • Tema artikel yang didaftarkan harus “Mendefinisikan Perguruan Tinggi Idaman“.
  • Tulisan/artikel adalah asli dari pengelola blog.
  • Tidak diperkenankan tulisan yang berhubungan dengan periklanan internet, unsur pornografi dan pornoaksi, SARA, plagiarisme.
  • Peserta harus mencantumkan sumber referensi atau daftar pustaka (apabila mengutip dari buku, artikel ilmiah, atau tulisan orang lain). 
  • Kata kunci (key word) wajib pada postingan meliputi :  Perguruan Tinggi Terbaik, Perguruan Tinggi Idaman, Perguruan Tinggi Favorit Indonesia, Universitas Islam Indonesia, Lomba Blog UII.
  • Pendaftaran dimulai dari tanggal 21 Desember 2009 s.d. 02 Mei 2010.
Hadiah Pemenang yang digondol  :
Juara   I               : Netbook
Juara  II               : BlackBerry
Juara III               : Ipod
Juara Harapan untuk 3 pemenang : Ipod


TOTAL HADIAH Rp. 15 JUTA

Info Pendaftaran dan Syarat  lengkap  :
  • SYARAT DAN KETENTUAN PESERTA LOMBA SECARA LENGKAP DISINI !
  • ISI FORMULIR PENDAFTARAN DISINI
  • DAFTAR PESERTA LOMBA YANG SUDAH MENDAFTAR DISINI




Buruan Sob....
Isi Formulir pendaftaran di blog resminya disini ! 
Tunggu apa lagi, sabet hadiahnya !!!

Wednesday, December 2, 2009

PENJELASAN MENDIKNAS SETELAH PUTUSAN MA TENTANG UN

Para wali murid dan siswa peserta UN TP. 2009/2010 saat ini merasa lega sekaligus bingung berkaitan putusan MA tentang Penolakan Ujian Nasional yang diselenggarakan Mendiknas. Demikian juga pihak-pihak pelaksana UN khususnya pihak lembaga pendidikan terutama lembaga pendidikan swasta merasakan kelegaan sekaligus kebingungan. Merasa lega karena penentu kelulusan ditentukan oleh pihak sekolah dengan ketentuan bagi peserta UN yg berhalangan (seperti sakit, dsb) dapat segera menyusul (mengulang), tidak seperti tahun lalu harus menunggu tahun depan. Yang menjadi kebingungan adanya perubahan istilah UN diganti dengan istilah Ujian Akhir (kelas 9), seperti apa teknis dan penyelenggaraannya. Pergantian istilah ini tentunya menjadi tanda tanya bagi sebagian besar  siswa peserta UN terutama wali murid.

Untuk lebih jelasnya, berikut penjelasan Mendiknas Terhadap Penolakan Kasasi MA tentang Pelaksanaan UN yang saya donlot dari situs Diknas.go.id

Jakarta, - Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh dan didampingi para eselon satu mengadakan konferensi pers...
di Gedung A lt.2, Depdiknas, Kamis(26/11) sore.
Menyusul keputusan Mahkamah Agung (MA) yang menolak kasasi dari pemerintah berkait keputusan dari Pengadilan Tinggi Jakarta tentang pelaksanaan Ujian Negara (UN), Mendiknas menegaskan, akan melakukan perubahan pada pelaksanaan UN tahun 2010 mendatang.

Dalam sambutannya, Mendiknas mengatakan, “perubahan ini tentu bukan lantaran adanya keputusan MA itu, tapi bagian dari upaya perbaikan yang selama ini dikeluhkan oleh masyarakat terhadap pelaksanaan UN. Jadi niat untuk melakukan perubahan itu bukan lantaran adanya keputusan MA itu , sampai sekarang saja belum melihat dan membaca bunyi keputusan itu,” katanya.

“kami sepenuhnya akan patuh terhadap keputusan lembaga negara dan siap menjalankannya. Demikian juga jika ada jalur hukum lain setelah kasasi ditolak. Menurut para ahli hukum masih ada dalam bentuk PK ( peninjauan kembali),” katanya.

Persoalannya, kata Mendiknas menjelaskan, sampai saat ini, Depdiknas belum menerima putusan kasasi itu, bagaimana bunyinya. Memang ada di website MK yang menjelaskan kasasi pemerintah berkait dengan putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat berkait dengan pelaksanaan UN.

Mendiknas menjelaskan, ia mencoba memahami putusan kasasi yang dikeluarkan MA berkait dengan keputusan pengadilan tinggi pada 3 Mei 2007 lalu itu. Ada enam point tiga diantaranya itu yang mungkin dimaknai sebagai pemerintah tidak boleh melaksanakan UN. “Kalau melihat keputusan itu, tidak ada satu kata pun yang menyatakan tentang dilarangnya pemerintah untuk melakukan UN,” katanya.

Yang ada kata Mendiknas menjelaskan, dalam bentuk memerintahkan kepada para tergugat ( baca:pemerintah) untuk meningkatkan kualitas guru, kelengkapan sarana dan prasarana sekolah, akses informasi yang lengkap di seluruh daerah di Indonesia, sebelum mengeluarkan kebijakan Pelaksanaan Ujian Nasional lebih lanjut ; memerintahkan kepada para tergugat untuk mengambil langkah-langkah konkrit untuk mengatasi gangguan psikologi dan mental peserta didik dalam usia anak akibat penyelenggaraan UN; memerintahkan kepada para tergugat untuk meninjau kembali Sistem Pendidikan Nasional.

Berkait dengan perintah itu, Mendiknas menjelaskan Depdiknas telah melakukan perbaikan-perbaikan dalam hal meningkatkan kualitas guru, kelengkapan sarana dan prasarana sekolah, akses informasi yang lengkap di seluruh daerah di Indonesia.” Pada program seratus hari Depdiknas jelas terlihat upaya-upaya itu sedang dilakukan, misalnya menyambungkan ke 17.500 sekolah,” katanya.

Perubahan Aturan UN
Dalam sambutannya yang lain, Mendiknas mengatakan, “Pelaksanaan UN 2010 akan berubah, UN juga dinyatakan bukan sebagai satu-satunya penentu kelulusan, tetap yang menentukan kelulusan adalah sekolah atau guru. Artinya, jika ada peserta didik yang memperoleh nilai 10, tapi menurut gurunya peserta didik itu tidak lulus, maka dia tidak lulus,” katanya.


Mendiknas menjelaskan, anggapan UN dijadikan satu-satunya untuk menentukan kelulusan adalah keliru. Hasil UN digunakan antara lain untuk pemetaan mutu satuan dan atau program pendidikan, seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya, penentuan kelulusan peserta didik dari program dan atau satuan pendidikan, serta pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upaya peningkatan mutu pendidikan.

Perubahan yang paling signifikan dari pelaksanaan UN tahun sebelumnya dengan UN 2010, lanjut Mendiknas, adalah adanya kesempatan bagi para peserta didik untuk UN susulan, bagi mereka yang pada saat pelaksanaan tidak bisa ikut karena suatu sebab, seperti sakit. -Sidiknas-

JADWAL UJIAN NASIONAL 2009/2010

Jadwal Ujian Nasional, Kisi - Kisi Ujian Nasional, dan POS Pelaksanaan UN Tahun Pelajaran 2009/2010
10/12/2009 | BSNP

Berdasarkan surat Menteri Pendidikan Nasional Nomor: 178/MPN/HK/2009 tanggal 03 Desember 2009 perihal: Ujian Nasional (UN) Tahun pelajaran 2009/2010, maka dengan ini diberitahukan bahwa Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) akan menyelenggarakan UN pada tahun 2010 dengan jadwal sebagai berikut:

Jadwal Ujian Nasional SMA/MA, dan SMK Tahun Pelajaran 2009/2010:

    * UN Utama (22 -- 26 Maret 2010)
    * UN Susulan (29 Maret -- 5 April 2010)
    * UN Ulangan (10 -- 14 Mei 2010)

Jadwal Ujian Nasional SMP/MTs dan SMPLB Tahun Pelajaran 2009/2010:

    * UN Utama (29 Maret -- 1 April 2010)
    * UN Susulan (5 -- 8 April 2010)
    * UN Ulangan (17 -- 20 Mei 2010)

Jadwal UASBN Tahun Pelajaran 2009/2010 SD/MI dan SDLB:

    * UN Utama (4 -- 6 Mei 2010)
    * UN Susulan (10 -- 12 Mei 2010)

Sumber : Diknas.go.id


Untuk pengaduan dan informasi lain dapat anda kirimkan melalui:
SMS : 0811-976-929
Fax : 021-5703337
Telp : 021-5707303
Surat : PO.BOX 4490
E-mail : aspirasi@diknas.go.id


Monday, October 19, 2009

Doktor Cilik Hafal dan Faham Al-Qur'an

Siapa yang tak kenal Husein Tabataba’I peraih predikat Doktor Honoris Causa pada usia 7 tahun, bocah luar biasa asal Persia ini bahkan sudah terkenal dari saat usianya masih 5 tahun di negaranya. Dia tidak hanya hapal Al-Quran namun juga paham dan menerapkannya dalam kehidupannya sehari-hari. Menilik keseharian Husein ia lahir dan tumbuh di tengah lantunan ayat Al-Quran. Orang tuanya sedari awal bertekad untuk menjadi hafidz dan hafidzah (para penghapal Al-Quran) dan kemudian itu tercapai setelah 6 tahun kemudian. Sedari bayi ibunya selalu menjaga segala tingkah lakunya termasuk selalu mengambil wudlu ketika akan menyusui Husein.
Untuk menghafal dan memperlancar bacaan, maka orang tuanya mendirikan perkumpulan yang terdiri dari orang-orang yang memiliki minat yang sama. Husein kecil selalu diajak untuk menghadiri pengajian-pengajian ini, tanpa sadar ternyata Husein yang hanya duduk mendengarkan ternyata menyerap semua ilmu yang diajarkan. Sadar akan bakat yang dimiliki oleh Husein maka ayahnya mengajarinya dengan serius dan menggunakan metode yang mudah dipahami oleh balita seusianya.
Lambat laun Husein sendiri menjadi sosok yang menarik perhatian banyak kalangan, dalam suatu majelis terkadang dia ditanya mengenai hal-hal tertentu dan dengan cekatan ia menjawabnya berdasarkan ayat-ayat Al-Quran. Namun demikian tetaplah ia masih kanak-kanak. Terkadang ia masih bertengkar dengan kakak-kakaknya namun demikian dalam bertengkar itu pun ia mendasarinya dengan ayat –ayat Quran. Membaca buku ini memberikan banyak hikmah, bahwa kebiasaan yang baik dari orang tua di rumah merupakan pelajaran jiwa bagi anak-anaknya

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...