Wednesday, July 13, 2011

Dulu Copet, Sekarang Saya Rampok

photo kapanlagi dot kom
Siapa yang tidak kenal Direktur Pemberitaan dan Presiden Lawyer Club di TVone yang bernama Karni Ilyas? beliau adalah salah seorang tokoh dan idola bagi dunia intertainment baik media cetak maupun media televisi. Populeritas karir dari media dibawah tangan dinginnya cepat melonjak baik dari segi rating maupun image tontonan para pemirsanya begitu melekat dihati. Berikut lebih jauh mengenal karir sosok seorang Karni Ilyas yang berlatar belakang pendidikan Sarjana Hukum di UI ini.

Berawal dari seorang jurnalis tangguh, kini Sukarni Ilyas–lebih ngetop dengan sebutan Karni Ilyas–dikenal sebagai pengelola media bertangan dingin. Kemana pun Karni hinggap dan mengelola sebuah media, hampir bisa dipastikan media itu tumbuh, maju dan berkembang.

Lebih jauh, Karni kemudian dikenal sebagai jaminan ekslusivitas berita. Masih ingat peristiwa penggerebekan rumah yang menjadi markas kelompok teroris Dr Azhari di Malang dan Wonosobo, Jawa Timur beberapa tahun lalu? Saat itu, hanya satu stasiun televisi swasta yang menyiarkannya untuk pemirsa. Stasiun tv yang –saat itu, belum lagi dua bulan Karni bergabung di dalamnya.

Itu hanya contoh kecil dari sederet berita ekslusif yang sempat dilaporkan pria kelahiran Bukit Tinggi, Sumatra Barat, yang sempat bergabung bersama Suara Karya, Majalah Tempo dan Forum Keadilan, itu sebelum merambah dunia televisi. Saat di Tempo, Karni jualah satu-satunya wartawan yang berhasil menguak kasus korupsi di Pertamina, yang melibatkan tokoh Pertamina saat itu, Ibnu Sutowo.

Dengan rekam jejak yang nyaris paripurna–koran, majalah, hingga televisi, wajar jika Karni menjadi incaran banyak stasiun tv. Kepada Rahmad Budi Harto dan pewarta foto Amin Madani dari Republika, direktur pemberitaan TVOne, televisi baru pengganti Lativi yang menjadikan berita sebagai menu utama, itu membuka banyak sisi dirinya.

Bisa menceritakan pengalaman Anda di dunia pers?
Panjang sekali. Sejak duduk di bangku SMA saya sudah jadi wartawan. Bayangkan, dari tahun 1972 tuh. Pertama saya berkiprah di Harian Suara Karya, koran Partai Golkar yang paling berpengaruh waktu itu. Enam tahun saya di Suara Karya, lalu pindah ke Majalah Tempo di tahun 1978. Terus… sampai Tempo dibredel pada 1994. Saya di sana meniti mulai dari reporter, redaktur senior, sampai redaktur pelaksana.

Tahun 1992, saya sudah ditugaskan Tempo memimpin Majalah Forum. Majalah Tempo saya pimpin sejak 1992 sampai Tempo mati, 1994. Jabatan saya dua waktu itu, redaktur pelaksana Tempo dan pemimpin redaksi Forum. Tempo mati, Forum jalan sendiri. Oplah Forum tertinggi di Indonesia waktu itu, 140 ribu eksemplar.

Pada 1999 saya keluar dari Forum dan pindah ke SCTV, langsung menjadi pemimpin redaksi. Forum sendiri sudah dijual Tempo ke orang lain. Saya di SCTV sampai 2005.

Dari pengalaman Anda, apa perbedaan antara jurnalisme di media cetak dengan jurnalisme televisi?
Dari sisi cara menyampaikan pikiran, aspirasi yang hendak kita sampaikan dan membentuk opini, media cetak itu lebih dalam. Kita bikin laporan utama berpuluh-puluh halaman. Puasnya itu, wah, batin kita bisa puas sekali. Saya bisa bekerja dari pagi sampai pagi lagi.

Cuma, media cetak itu kan lebih lambat. Kejadian hari ini baru bisa kita laporkan besok. Majalah bahkan lebih parah lagi, baru pekan berikutnya. Jadi kita perlu pendalaman. Sementara televisi itu lebih cepat, eye catching. Kepuasan dari orang yang menerima pesan itu jauh lebih massal. Itu kepuasannya.

Saat Anda pimpin, SCTV sempat menjadi salah satu televisi dengan siaran berita terbaik. Apakah resep dari media cetak yang Anda bawa ke TV?
Benar. Itu bahkan dapat kita pertahankan selama enam tahun. Resep dari media cetak ikut masuk, tetapi media visualnya kan juga harus dikuatkan. Media visual itu yang dilihat, yang menarik orang itu kan gambarnya. Jadi intinya bagaimana kita bisa mendapatkan gambar yang lebih bagus daripada stasiun televisi lain.

Televisi atau media elektronik lain itu keunggulannya kecepatan. Bagaimana kita bisa lebih cepat daripada orang lain. Moto SCTV saat itu, aktual, tajam, terpercaya. Jadi dalam soal aktualitas itu, kita tidak boleh sama sekali kalah, bahkan satu detik pun.

Tahun 2005 Anda pindah ke ANTV. Bagaimana Anda bisa memutuskan pindah, padahal di SCTV sendiri sudah mapan?
Waktu itu kan ada kabar bahwa ANTV akan bekerja sama dengan asing. Saya ingin tahu bagaimana sih cara asing mengelola televisi? Di SCTV sendiri, waktu itu saya sudah merasa akan lebih nyaman kalau pindah ke ANTV. Persoalannya, di SCTV yang awalnya punya teman saya, dia jual. Persis seperti saat Tempo menjual Forum.

Benar, pemilik baru juga menginginkan saya tetap di SCTV. Tapi saya tak begitu kenal. Sementara di ANTV, saya cukup mengenal dekat keluarga Bakrie. Maka itulah saya pindah ke ANTV, dengan harapan bisa membangun ANTV menjadi lebih baik.

Sebagian, dalam hal news, minimal orang sudah melihat News AN. Dulu orang tidak pernah mau menonton berita AN, tetapi setelah kita bangun dalam dua tahun, sistemnya kita perbaiki, orang kita tambah, kemudian awareness publik pun kita tingkatkan. Banyak berita ekslusif kita tayangkan. Orang kemudian mulai memonitor berita AN yang sebelumnya tidak mereka lirik.

Di ANTV Anda bekerja sama dengan investor asing. Apa bedanya cara asing dengan orang dalam negeri dalam mengelola televisi?
Kebetulan saya itu Divisi News. Jadi lebih independen dari manajemen perusahaan. Mereka itu lebih memperhatikan entertainment. Juga dia nggak ngerti berita kita, karena kan pakai Bahasa Indonesia. Mereka yang masuk ke Indonesia itu juga tidak berpengalaman dalam news. Star TV Hong Kong lebih ke entertainment. Ternyata saya tidak mendapatkan apa-apa. Tidak ada yang baru.

Lalu Anda merasa di TVONe ini mendapatkan sesuatu, atau tantangan baru?
Jelas. Ini tantangan baru. Televisi yang sajian utamanya adalah news. Porsi berita di TVOne itu 60-70 persen. Jadi porsi newsnya bisa 3-4 kali dibanding kalau saya berkiprah di televisi entertain atau family tv seperti SCTV. Saya ditantang untuk membikin yang lebih besar lagi. Jadi, kalau dulu saya hanya tukang copet sekarang saya jadi rampoknya.

Kalau Anda lihat televisi saat ini, berita bukan menjadi porsi utama. Apakah nanti TVOne masih bisa konsisten menjadi televisi berita, sementara televisi lain meraih keuntungan dengan format hiburan?
TVone akan menyasar pemirsa kelas A dan B, bukan D dan E seperti yang selama ini disasar Lativi. Memang kelas A,B, dan C itu populasinya lebih sedikit, sehingga rating akan turun. Tetapi ingat, jualan utama TVOne memang bukan rating, tapi image, citra.

Image bisa dijual tidak? Saya sudah membuktikan ketika di SCTV. Dalam enam tahun, tahun pertama Divisi News masih rugi. Tahun kedua mencapai BEP. Tahun ketiga sampai keenam kita untung tidak tanggung-tanggung, Rp 120 miliar per tahun. Itu net profit, sudah dikurangi gaji karyawan dan lain-lain.

Saya melihat, ternyata berita itu kalau ditekuni bukan sesuatu yang kalah dari entertain atau sinetron. Divisi lain seperti entertainment tak bisa sebesar itu. Walau dari rating memang news tidak akan menang, kita tidak mencari rating. Yang kita cari itu image. Rating Liputan 6 SCTV paling 2-3, dibanding rating Inul yang bisa sampai 16. Sinetron bisa ratingnya 20. News kecil sekali, tetapi nyatanya, uang yang dihasilkan oleh Divisi News SCTV itu luar biasa. Jadi salah kalau kita pandang hanya rating yang bisa dijual. Image justru lebih mahal.

Artinya, Anda melihat pemasang iklan tidak selalu melihat rating?
Ya. kalau saya mau mengiklankan Nokia, saya tidak mungkin beriklan di tayangan dangdut. Saya akan tayangkan di program berita. Kalau saya mau mengiklankan Kijang Innova, apalagi Mercy atau BMW, jelas tak mungkin saya tayangkan di televisi sinetron. Tv berita tempatnya. Bahkan shampo-shampo berkelas yang cukup mahal, tempatnya di program berita.

Ketika Anda di SCTV, Anda diberi tambahan porsi waktu untuk berita?
Ya, tambah-tambah sedikit. Jadi sekitar 20-25 persen. Tetapi memag tak bisa menambah lebih banyak lagi karena memang patokan dari awal, SCTV itu lebih kepada hiburan.

Ok, masyarakat banyak mengeluhkan tayangan televisi yang umumnya tidak bermutu….
Saya berharap TVOne merupakan jawaban dari keluhan-keluhan itu. Apa yang diinginkan publik, kita coba tampilkan. Kita berharap publik betul-betul menonton sesuai aspirasinya selama ini. Mereka mengeluh soal sinetron yang murahan, tayangan tuyul.

Publik juga sudah muak dengan tayangan yang hanya jual paha, takhayul yang bertentangan dengan agama. TVOne mencoba menjawab aspirasi itu. Keinginan publik Indonesia itu kami serap dari berbagai media cetak, seminar, dan debat.

Kami kini ingin melihat, apakah benar masyarakat ingin melihat tayangan yang berbeda? Tayangan informasi yang berguna sebagai tuntunan? Porsi olah raga juga lebih banyak daripada stasiun televisi yang lain. Kami ingin menampilkan bagaimana seorang atlet bisa berprestasi, dari bawah, sehingga bisa menjadi inspirasi.

Kalau berita menjadi jawaban, bukankah masyarakat juga resah dengan berita yang menghadirkan kekerasan?
Ketika berita-berita kriminal kita jadikan satu paket berita, itulah kekerasan. Tapi ketika masuk jadi berita biasa, itu jadi netral. IPDN berita kekerasan atau tidak? Menurut Anda layak diberitakan tidak? Itu kekerasan. Orang ditendang-tendang seperti itu Terus polisi menendangi mahasiswa di UMI Makassar. Itu kekerasan atau bukan?

Jadi tidak semua berita (tentang) kekerasan harus dimusuhi. Justru itu, sosial kontrol kita ada di situ. Kalau tidak begitu, dalam kasus IPDN, misalnya, tidak akan ada perhatian ke situ. Kita siarkan bagaimana seorang senior memukuli yuniornya. Tapi kalau satu jam tayangan isinya hanya kekerasan demi kekerasan, ya tentu saja publik juga muak. Jadi, saya berharap TVOne bisa menjadi monumen media Republik ini sampai kapan pun.

Ada contoh konsep seperti ini di luar negeri?
Ada Foxnews di Amerika Serikat, milik Rupert Murdoch. Newsnya ada, hiburannya juga ada.

Fox kan saingan langsung CNN…
Ya, kami ingin menuju seperti Fox. Formulanya Fox.

Ada yang menganggap kedekatan Anda dengan para petinggi Polri yang memungkinkan didapatnya berbagai berita eksklusif. (ANTV beberapa kali mendapatkan tayangan eksklusif penangkapan kelompok teroris Dr Azhari, bahkan Karni Ilyas sendiri terjun langsung sebagai reporter). Bagaimana menurut Anda?

Wartawan itu harus dekat dengan siapa saja. Dengan Kejaksaan, Kepolisian, saya dekat. Dengan politisi juga saya dekat. Kewajiban wartawan itu, menurut saya, bekerja di mana pun harus menciptakan berita-berita eksklusif. Ketika di Majalah Tempo, berita saya eksklusif-eksklusif. Yang bertemu Kartika Thahir di Swiss, ya saya. Benny Moerdani pun mencoba mengejar-ngerjar dia, nggak dapat. Itu tak ada hubungan dengan (kedekatan dengan) polisi. Minimal saya harus berusaha eksklusif.

Karni kemudian bercerita tentang Kartika Thahir, istri seorang pejabat Pertamina yang menjadi tangan kanan Ibnu Sutowo, HA Thahir, di era 1980-an. Ibnu Sutowo sendiri merupakan direktur utama Pertamina yang ditengarai terlibat dalam megakorupsi di perusahaan minyak itu.

Kartika kemudian bersembunyi di luar negeri, dan berperang melawan Pertamina di pengadilan negeri Singapura selama 15 tahun (11 Maret 1980 s.d 3 Desember 1992. Kartika berkeras mempertahankan uang sogokan dari dua maskapai Jerman — Siemens dan Klockner — kepada almarhum suaminya. Dana itulah yang dituntut kembali Pertamina. Uang suap senilai 15 juta DM dari Siemens dan 35 juta DM dari Klockner itu dianggap Kartika sebagai ‘jasa’ HA Thahir atas pembelian mesin-mesin Jerman untuk pembangunan pabrik baja Krakatau Steel.

Karni juga bercerita tentang pengalamannya menyusup ke sebuah lapangan tembak tempat seorang terpidana hukuman mati dieksekusi. Ia bahkan sempat berteriak,”Dor!” dan melukiskan mimik wajah sang terpidana saat peluru mengantarkannya menuju elmaut.

TVOne akan membuka biro luar negeri, terutama regional?
Itu memang ambisi kita. Tak hanya soal jangkauan. Membuat jangkauan luas itu gampang. Semua orang yang mengirim berita kita anggap saja kontributor. Tapi kita serius ingin membuka biro-biro di berbagai daerah. Rencana kita ada biro di Malaysia, Hong Kong, mungkin juga di Shanghai, Cina.

Ada yang menganggap media nasional terlalu Jakarta-centris…
News tak pernah Jakarta-centris. Berita itu setiap hari datang dari berbagai daerah. Berarti tsunami, yang kita tayangkan berhari-hari itu kan berita Aceh. Tak benar itu pendapat soal Jakarta-centris.

Tapi soal angle, yang menentukan kan Jakarta…
Angle memang ditentukan Jakarta. Tapi kalau ada kejadian, angle apa pun, ya angle apa yang terjadi di daerah. dsy

Republika online

http://202.155.15.208/kolom_detail.asp?id=323925&kat_id=85

Karni Ilyas
BAGI Karni Ilyas, pengamat politik A. Rahman Tolleng adalah sosok yang menempati ruang khusus dalam hidupnya. Karena dari tokoh inilah, Karni berkenalan dengan dunia wartawan senyata-nyatanya. Tolleng pulalah, menurut Karni, yang dianggap berjasa menempa karirnya sebagai wartawan di harian Suara Karya, meski untuk itu Karni harus meninggalkan kuliahnya di publisistik.

“Kalau Rahman Tolleng tidak menerima saya menjadi wartawan, saya tidak tahu apa jadinya saya sekarang,” kenang Kail, penggilan akrab Karni Ilyas — yang diberikan oleh rekan-rekannya di majalah TEMPO. Tolleng ketika itu adalah Pemimpin Redaksi Suara Karya, koran milik Golkar.

Di Suara Karya, urang awak ini bertahan enam tahun. Dari harian itu, Kail meloncat ke majalah berita TEMPO, pada 1978. Di majalah inilah, karir wartawan Kail mulai bersinar. Sebelum ditugaskan menjadi pemimpin redaksi majalah hukum Forum, jabatan terakhirnya di TEMPO adalah redaktur pelaksana.

Di tangan Karni, Forum, yang kala itu terbit dua minggu sekali, boleh dikatakan sanggup menjaring pembaca yang cukup besar dan mencapai masa keemasan. Majalah ini, waktu itu terkenal dengan rubrik wawancara khas dengan tokoh kontroversial dan Catatan Hukum dari Karni. Di Forum, laki-laki yang punya falsafah harus selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik ini, bertahan sampai sembilan tahun, sebelum ditunjuk menjadi komisaris dan pemilik sahamnya pada 1999.

Setahun kemudian, semua saham Karni di majalah itu dilepas dan ia hengkang ke SCTV sebagai pemimpin redaksi. Seperti pengakuannya, di stasiun televisi ini dia menemukan dunia baru yang tidak ia dapatkan sebelumnya di media cetak. “Dunia televisi ternyata dunia yang luar biasa dan di luar dugaan saya,” katanya. Luar biasa yang dimaksud Karni salah satunya adalah waktu tenggat berita di televisi yang bisa setiap jam. Toh meski berbeda, katanya, ia mencoba selalu konsisten di jalur yang benar, terutama di dunia jurnalistik yang memang sudah mengakar dalam jiwanya. “Menulis bagi saya merupakan kenikmatan,” ujar sarjana hukum yang jurnalis ini.

Sejak kecil, Kani – panggtilan masa kecilnya — tampaknya memang ditakdirkan dekat dengan dunia jurnalistik. Minatnya pada dunia tulis menulis sebenarnya sudah terlihat sejak ia SD. Tulisan pertamanya berupa puisi dimuat di koran Haluan Padang. “Mereka tidak tahu penulisnya anak kecil,” kata perokok berat ini.

Dari sanalah kekagumannya kepada sosok wartawan makin memuncak – dan ia pun bercita-cita ingin menjadi wartawan. Semua koran terbitan Jakarta yang masuk ke Padang, kota tempat ia dibesarkan, dibacanya. Agar bisa membaca gratis, Kani berteman dengan agen koran di ibu kota Sumatera Barat itu. Tapi kenapa harus wartawan? Katanya, ada satu hal dari wartawan yang tidak dimiliki profesi lain. “Kita bertarung agar bisa menjadi yang pertama dan terbaik,” cetusnya.

Minat pada dunia jurnalistik ini bisa jadi ditopang oleh latar belakang Kani yang kurang menikmati kasih sayang dari orang tua, terutama sang ibu yang meninggal ketika ia berusia tujuh tahun. “Masa kecil saya penuh air mata,” kenangnya. Besar di lingkungan Kota Padang yang olehnya disebut keras, Kani menjadi anak yang cenderung bebas. “Karena enggak ada orang tua dan kurang pengawasan, jadinya saya lebih bebas,” akunya.

Tapi kebebasan Kani bukan kebebasan liar. Di kebebasannya, ia tumbuh menjadi laki-laki mandiri dan berprestasi. Justru dari sana, motivasi belajarnya sangat tinggi. Di SD, ia bahkan sempat menjadi juara kelas. “Saya bertekad menyelesaikan sekolah dengan baik,” kata lelaki yang hobinya membaca buku dan berenang ini.

Karena tekad itu pulalah, meski sempat meninggalkan kuliah publistiknya ketika masuk Suara Karya, Karni tetap melanjutkan kuliahnya di fakultas hukum. Sampai sekarang, selain sebagai wartawan, banyak orang mengenalnya sebagai “orang hukum”. Di banyak kegiatan Jakarta Lawyers Club, tempat berkumpul banyak pengacara Jakarta, penerima Bintang Mahaputra 1999 — ia tidak hadir pada acara penyerahannya — ini juga terlibat aktif.

Kini, setelah lebih 30 tahun malang melintang di dunia wartawan, apa obsesinya? “Saya ingin Liputan 6 menjadi sumber berita nomor satu. Kalau di majalah ada TEMPO, di koran ada Kompas, maka di televisi ada Liputan 6,” ujar pemilik nama lengkap Sukarni Ilyas ini
Nama :
Sukarni Ilyas, SH.

Lahir :
Bukittinggi, Sumatera Barat, 25 September 1952

Pendidikan :
- SDN 3, Padang (1959-1965)
- SMPN V, Padang (1965-1968)
- SMEAN I, Padang (1968-1971)
- Perguruan Tinggi Publisistik, Jakarta (1972-1973)
- Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Jakarta (1975-1984)

Karir :
Wartawan/editor harian Suara Karya (1972-1978)
- Wartawan, desk editor, editor senior majalah berita mingguan Tempo (1978-1982; 1982-1986; 1992-1994)
- Ketua editor, komisaris majalah berita Forum, (1991-1999; 1999-2000)
- Direktur Pemberitaan SCTV (2000-sekarang)

Kegiatan Lain :
- Anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI; 1974-sekarang)
- Anggota Persahi (Bagian Publikasi; 1986-sekarang)
- Ketua Jakarta Lawyers Club (JLC; 1999-sekarang)
- Konferensi Hukum Dunia di Manila, Filipina (1977)
- Konferensi Hukum Asia di Seoul, Korea Selatan (1977)
- Konferensi Hukum Dunia di Madrid, Spanyol (1978)
- International Visitor Program di AS (program resmi; 1993)
- Manggala BP7 di Jakarta (1996)
- Senior Editor Meeting di Sidney (1997

sumber : urangminang.wordpress.com

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih Sobat Telah Berkenan Meluangkan Waktu Mengomentari dan Saya akan segera komen balik Anda. No. Porn No. Spam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...